3 July 2009, 09:16

Petani Subulussalam Makin Menjerit

Harga TBS Kelapa Sawit Anjlok Lagi

SUBULUSSALAM – Para petani kelapa sawit tampaknya tak pernah lekang dari penderitaan. Buktinya, hanya berselang beberapa minggu, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Subulussalam kembali anjlok hingga ke level Rp 1.000 per kilogram di tingkat pabrik atau Rp 700–Rp 800 di tingkat petani.

Demikian disampaikan Ketua DPD Asosiasi Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kota Subulussalam, Netap Ginting kepada Serambi, Kamis (2/7). Menurut Netap, anjloknya harga TBS dalam pekan ini membuat para petani di Subulussalam kian menderita. Sebab, menurut Netap, saat ini para petani sangat membutuhkan uang untuk mengingat kebutuhan dalam bulan ini cukup banyak seperti biaya sekolah atau kuliah anak-anak mereka. “Belum lagi ini mau masuk bulan puasa, kalau begini terus masyarakat tidak mendapat jaminan dari pemerintah,” kata Netap prihatin

Netap mengatakan, beberapa hari lalu pihaknya telah bermusyawarah dengan petani kelapa sawit di Subulussalam untuk merumuskan standar harga. Dalam acara tersebut harga TBS yang diajukan petani sebesar Rp 1.088 per kilogram. Namun, belum lagi harga tersebut diterima, pabrik kembali menurunkan harga hingga Rp 1.000 per kilogram.

Di sisi lain, Netap menyesalkan pemangku kebijakan di Subulussalam yang dinilai kurang responsif terhadap nasip masyarakat kecil di Subulussalam. Buktinya, kata Netap, aspirasi petani hingga kini belum juga mendapat tanggapan serius. Tidak hanya masalah anjloknya harga TBS, Netap juga mengaku hasil kesepakatan antara managemen Pabrik Lestari Tunggal Pratama (LTP) Penangagalan terkait masalah antrian truk petani tidak berjalan dengan baik. Soalnya, dalam sehari atau delapan jam kerja, truk petani lokal hanya dapat dilayani sebanyak 30 unit.

“Jadi sama saja, truk petani tetap harus menginap di pabrik sampai dua malam dan intinya, pihak pabrik belum sepenuhnya ingin membantu petani di Subulussalam,” tegas Netap Netap mensinyalir, anjloknya harga TBS dalam pekan ini hingga ke level Rp 1.000 tidak terlepas dari permainan pabrik. Tindakan tersebut, lanjut Netap, tidak jauh bedanya dengan praktek kapitalis sebab di Subulussalam tidak ada pabrik selain di Penanggalan.

Pasalnya, menurut Netap, harga TBS di Aceh Singkil seperti di Pabrik PT Ubertraco (Nafasindo) dan Astra Gunung Meriah, Rimo masih Rp 1.100 per kilogram. Alasan lain, harga CPO juga masih bertahan senilai Rp 6.311 perkilogram di FOB Belawan, Medan sedangkan harga inti sawit Rp 2.830 per kilogram. Dengan semikian, seharusnya harga sawit di Pabrik LTP Rp 1.088 per kilogram. “Makanya kami mengindikasi harga dipermainkan oleh pabrik demi mengejar untung yang banyak karena tidak ada saingan,” ujar Netap

Terkait dengan itu, Apkasindo berjanji akan kembali melakukan aksi demonstrasi ke kantor Walikota Subulussalam menuntut pemimpin daerah ini agar segera bertindak. Setelah pilpres nanti, kata Netap, Apkasindo akan mengerahkan massa petani yang jauh lebih banyak untuk menuntut persoalan harga TBS di Subulussalam. “Kita kerahkan sampai seribu petani sebab kami curiga, ada apa ini, sehingga pemko tidak mau merespon tuntutan masyarakatnya,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit sejak beberapa waktu terakhir selain berimbas pada menurunnya pendapatan petani di Kota Subulussalam, juga berdampak pada minimnya pendapatan perdagang, serta pendapatan penyedia jasa lainnya di Kota Subulussalam.(kh)