Invalid News.
3 July 2009, 08:56

Menjadi Sumber Berita

Daud Dihajar Dua Pemuda

IDI – Pengekangan kebebasan bersuara dan menyampaikan pendapat tampaknya tidak hanya dialami oleh para pekerja pers di Aceh. Masyarakat yang menjadi sumber berita pun ikut dibungkam. Buktinya, M Daud (45), warga Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur dihajar dua pemuda karena memberi komentar soal jalan berdebu di desanya kepada media. Kasus yang menimpa korban menjadi salah satu bukti bahwa masih ada upaya untuk menghalang-halangi kebebasan berpendapat.

Sebelumnya, korban berkomentar atas nama masyarakat yang bermukim di kawasan pedalaman Kecamatan Indra Makmue, Aceh Timur. Media pun merilis ancaman penyakit TBC (tuborculosis) dan gangguan saluran pernapasan (ispa). Pasalnya, jalan penghubung Kuta Binjei menuju Indra Makmue yang mereka lalui setiap harinya menimbulkan debu yang sangat menggangu. Sementara kondisi tersebut dilaporkan terus dibiarkan dan belum ada respon dari pemerintah daerah.

“Padahal kondisi seperti ini sudah menahun. Kami setiap hari harus rela makan debu. Untung bagi mereka yang punya mobil. Kalau warga biasa seperti kami, otomatis debu terhisap saban hari,” kata M Daud Husen (45) salah seorang Warga Indra Makmue kepada Serambi, Senin (29/6).

Akibat dari komentar korban di media tersebut, dua pemuda masing-masing Ucok dan Wan Plang yang juga dari Kecamatan Indra Makmue memukuli korban sekitar pukul 10.10 WIB, Kamis (2/7) di Simpang Tiga Kedai Alue Ie Mirah. Kejadian yang dipicu oleh komentar korban kepada media masa terkait jalanan berdebu tersebut membuat korban trauma berat.

Informasi yang dihimpun Serambi, korban mulanya dipanggil oleh Geuchik Alue Ie Mirah, Salam untuk menyelesaikan permasalah dengan dua pemuda tersebut. Keduanya adalah pekerja di jalan yang sedang dibangun dalam bentuk swadaya masyarakat. Namun sesampai korban di sebuah rumah makan di Kedai Alue Ie Mirah. kedua pemuda tadi langsung melempari korban dengan botol aqua 1.500 liter. Sehingga, wajah dan badan korban basah. Masih belum puas, kedua pelaku juga melayangkan bogem mentah ke muka korban. Sehingga, hidung dan bibir korban berdarah. Melihat kondisi tidak menguntungkan, korban langsung bergegas pergi. Korban juga diantar oleh seseorang ke rumah sakit terdekat.

Karena merasa tidak pernah merasa menyudutkan pelaku dalam hal pembangunan jalan tersebut, korban akhirnya mengadukan hal itu ke Polsek Indra Makmue. Korban yang dihubungi via telepon mengatakan, ia sebenarnya tidak pernah menyudutkan pekerja jalan itu di media. “Hanya saja saya sebagai warga berharap agar pemerintah segera melakukan pengerasan. Paling tidak juga disiram untuk mengantisipasi debu,” kata korban.

Selain itu, menurut korban, ia juga mendukung sepenuhnya pelaksanaan jalan tersebut, termasuk oleh dua pelaku pemukulan yang ikut bekerja di pembangunan jalan dimaksud. “Bahkan, terkadang saya juga bekerja sebagai buruh. Mana mungkin saya tidak mendukung pembangunan jalan ini. Namun saya berharap pemerintah memeprhatikan dampak tidak dilakukan penyiraman,” aku korban. Sementara itu, Kapolsek Indra Makmue, Aiptu Muhammad Jaya yang dikonfirmasi membenarkan bahwa ia sudah menerima laporan korban. “Kita sudah terima dan akan diselidiki dulu kasusnya,” demikian Muhammad Jaya.(yuh)