17 May 2009, 09:14

Perempuan Senja

PEREMPUAN punya kebiasaan menjelang sore duduk berlama-lama di tepi kali belakang rumahnya. Untuk memupus jenuh, ia kerap melempar batu kecil ke hamparan air. Ditatapnya hamparan remuk riak itu perlahan hingga memudar tenang. Ia selalu melakukannya berulang-ulang sampai riak yang memantul sempurna meruapkan bayangan Miswar.

Tatapan bersua pandang pertama dengan Miswar beberapa bulan lalu di tepi kali itu. Sesaat sebelum mentari mencebur diri dalam gegaris jingga, dan langit mulai memantulkan bayang temaram tubuhnya. Lelaki pecinta alam itu senang menyusuri lautan ilalang yang menjamur di tepi kali seraya menikmati panorama senja, dan bagi perempuan itu penghujung senja menjadi tak lagi hampa saat Miswar menyatakan senang berjumpa dengannya di tepi kali. Walau ia mengiyakan malu-malu dalam hati.

Mekar semerbak sudah hatinya jika lelaki muncul di tepi kali itu. Mungkin, pendam mereka akur tentang persinggahan kemesraan berikutnya ditempat yang sama, pun diwaktu yang tepat ketika angin senja menghentikan desah ilalang yang terpana akan riak cinta yang terus mereka titi di tepi kali itu. Terasa gemericik air bak alunan orkestra yang mengiringi untaian senyum dan canda mereka sampai awan merah berarak di langit jingga dalam warna senja.

“Kau tahu, kenapa aku senang berlama-lama disini, karena alunan gemericik itu lebih merdu dari suara desah angin, kicauan burung maupun suara alam lainnya, sebab bukan sekedar kandungan etis yang kita temukan dalam riak itu tetapi juga kedamaian yang mengalun tajam. Sama seperti perasaan manusia, sejuk tapi menusuk “ujar Miswar suatu ketika

“Kau begitu menyukai suasana seperti ini? “selidik perempuan itu. “Ya, tapi aku tak bisa berlama-lama di sini. Besok aku harus kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah” Itulah perjumpaan terakhir mereka di tepi kali itu, tapi tetap saja rasa hati perempuan itu tak bisa tertumpahkan, kebimbangan terus meneduhkan pendam dalam hampanya suasana senja saat itu.”jika kau merindukanku, tataplah riak air itu dan anggap bayanganku ada disana, karena riak itu adalah pertunjukan alam yang paling indah untuk menghiburmu”

Ia tertegun, ada sesuatu yang menderu dalam desah nafas. Percuma jika angannya sanggup meruapkan bayangan sosok manapun dalam hamparan riak itu. Lalu dengan begitu kerinduannya terpuaskan semudah itu. Tak pahamkah Miswar perasaan sesorang perempuan. Penantian begitu mahal, kerinduan yang membuncah bisa meletup suatu saat, menghamburkan serpihan luka. Apalagi keresahan yang dipendam berbulan-bulan betul-betul-betul nyata kemudian.

“Apa lagi yang kau tunggu Samirka! besok anak Haji Samir akan datang menagih janjinya, kuharap kau tak menundanya lagi” gelegar ayah tadi pagi membuat hatinya kian resah. Diseka kembali sisa-sisa mendung diwajahnya. Apalagi yang bisa diharapkan dari lelaki itu. Sudah hampir setahun Miswar menghilang, namun ia tak pernah menerima sepucuk pun kabar darinya di negeri seberang. Ia tak bisa mengelak lagi, hanya pasrah akan masa depan hidupnya pada titah ayahnya.

Tetesan gerimis yang semula menorehkan bintik-bintik kecil di wajahnya, berubah menjadi renai hujan menguyupkan sekujur tubuh. Tatapan matanya liar, menyusuri gemuruh sungai yang keruh. Ia tak putus asa, di rogohnya kertas yang mulai lembab dari saku roknya lalu ia pun menumpahkan baris-baris luka untuk Miswar di atas kertas itu : Kau tahu, penantian ini akan terus mempermainkan perasaan kita. Karenanya anggap saja kita tak pernah bertemu di sini, lupakanlah senja itu, lupakan suara alam yang paling merdu bagimu, lupakanlah wajahku, lupakan semua sisa-sisa kenangan yang pernah ada. Di lumatnya kertas lembab itu hingga mengeras lalu dilemparkan ke hamparan arus. Ia pun berlari sekuat tenaga, mendobrak derasnya gemuruh dalam hamparan ilalang, agar derasnya hujan bisa menyapu sisa-sisa kebahagiaan yang pernah mereka rajut saban senja itu

* Hendra Kasmi; Mahasiswa PBSID Unyiah angkatan’05. Pengisi Antologi Jurnal Cerpen Indonesia Edisi 10 di Yogyakarta, Pengisi Kucer Sepucuk Surat Buat Emak Gemasastrin, dan menulis cerpen, puisi dan resensi di beberapa media lokal Aceh