Tue, Mar 17th 2009, 16:17
Buku Aceh Pungo Dibedah
Bedah Aceh Pungo
BEDAH BUKU ACEH PUNGO: Cici, Taufik Al Mubarak, Barlian AW, dan Dian Guci, membedah buku karya Taufik Al Mubarak dengan judul Aceh Pungo, disebuah Cafe di Banda Aceh, 16 Maret 2009. Muatan buku Aceh Pungo, sebuah dogmatis dan teori belaka melainkan untuk mendapatkan kenyataan sosiologis orang Aceh yang senantiasa berkembang, menggeluti kritik-kritik sosial yang progregisif dan konstruktif. ACEHIMAGE.COM/AK Jailani
Dalam acara yang diselenggarakan Delta Intermedia itu, Barlian AW, mantan Wakil Pemred Tabloid Kontras selaku pembedah, mengatakan membaca buku Taufik itu ibarat masuk ke dalam pasar tradisional.
“Di dalamnya kita temukan berbagai jenis barang keperluan sehari-hari, tapi kita akan berhadapan dengan berbagai karakter pedagang dan pembeli. Juga berbagai aroma yang aneh, dan kadang menusuk hidung,” paparnya saat membacakan makalah bertajuk ‘Membaca Aceh Pungo, Tanpa Ketakutan.’
Pembedah lain, Dian Hendrika Susmadewi alias Dian Guci menyatakan, buku tersebut bagus untuk memberikan pemahaman tentang orang Aceh kepada orang di luar Aceh. Hanya saja karena terlalu khas keacehannya, harus ada beberapa petunjuk agar orang luar mengerti alam pikiran Aceh dalam bahasa Aceh di buku itu.
“Buku ini akan bagus untuk menambah perbendaharaan tapi perlu guide untuk memahami yang kecil-kecil. Buku ini bisa menjadi misi diplomatik untuk menerangkan apa yang terjadi di Aceh,” tegas penerjemah yang sudah malang melintang di dunia penerbitan itu.
Dalam diskusi yang dimoderatori Liza Dayani tersebut, Taufik yang kebagian berbicara di akhir acara mengatakan tidak berpikir rumit saat menuliskan kumpulan tulisan yang menjadi buku itu. Ia mengaku tidak tahu ketika akan diberi judul Aceh Pungo. Namun mengenai kepungoan didapatnya dari definisi sehari-hari. Ia juga setuju dari sisi judul, sangat menjual.
“Orang kalau cari buku tentang Aceh, maka saya pikir agar langsung didapat harus ada kata `Aceh’ nya,” ujarnya yang disambut gelak hadirin. Di sisi lain, ia juga mengakui tidak akan menulis sesuatu yang tidak dikuasainya. Berlainan dengan sepak bola dan politik, masalah perempuan dan kesehatan tidak disinggungnya.(dwi)