16 April 2009, 12:02
Lagi, Caleg Puree Singkee
* Timses Disuruh Menagih
Caleg Minta Kembali Bantuan
Warga Kompleks BTN Arun Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Rabu (15/4) memperlihatkan bantuan alat-alat dapur yang diberikan seorang caleg dari Partai Bulan Bintang (PBB) yang ingin diminta kembali oleh caleg yang bersangkutan. PROHABA/SAFRIZAL
Dari Aceh Utara, seorang calon legislatif (caleg) untuk DPRK Aceh Utara dari Partai Bulan Bintang (PBB), Junaidi yang kini sedang menduduki kursi dewan setempat, meminta warga Kompleks BTN Arun Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, mengembalikan bantuan yang pernah diberikan. Alasannya, warga kompleks itu tidak memberikan dukungan terhadap Junaidi pada Pemilu, 9 April lalu. Junaidi tak datang untuk penagihan itu. Ia mengutus tiga wanita tim suksesnya. Alhasil, ketiga wanita itu terlibat perang mulut dengan ibu-ibu kompleks yang memang telah menanti kedatangan mereka.
Seratusan warga kompleks BTN Arun sudah menunggu kedatangan Junaidi sejak pukul 14.00 WIB, Rabu (15/4). Namun, caleg tersebut malah tak datang. Yang datang hanya tiga orang wanita yang diutusnya. Mereka tiba di Lapangan Futsal di Lorong Mahoni, sekitar pukul 16.00 WIB. Utusan caleg tersebut datang dengan mengendarai Minibus Carry warna hijau lumut. “Saya utusan Pak Junaidi, saya disuruh ambil barang-barang yang sudah dikasih kepada warga di sini waktu sebelum Pemilu. Pak Junaidi tidak bisa hadir karena ada pertemuan di Langsa,” kata seorang wanita yang mengaku sebagai utusan caleg tersebut, di hadapan warga.
Lalu, seorang tuha peut di kompleks tersebut H Muhammad Yuska, meminta masalah itu dibicarakan dengan baik-baik dan tidak di jalan. Apalagi, warga di sana juga ada yang memilih Pak Ju. Tapi, utusan caleg tersebut menjawab bahwa mereka tidak bisa lama-lama karena tugasnya hanya untuk mengambil barang-barang tersebut. Mendengar ucapan tersebut, warga marah dan merasa tersinggung. Sebagian diantara mereka mengeluarkan kata-kata “Kenapa bantuan yang sudah dikasih diminta lagi. Kalian pikir kami butuh sekali sama piring-piring ini, karena dikasih saja makanya kami terima. Kami tidak pernah meminta.”
“Kenapa waktu datang dulu bilang ini bantuan saya berikan ikhlas, tidak mengharapkan imbalan apapun dan tidak akan meminta kembali bantuan ini. Sekarang begitu tidak terpilih kenapa bantuannya diminta lagi,” tandas Hj Maryam, seorang ibu rumah tangga di kompleks itu, diiyakan puluhan wanita lainnya yang tidak mau mengembalikan bantuan itu. Alhasil penagihan itu gagal dilakukan.
Menurut warga, caleg tersebut menyerahkan bantuan berupa peralatan dapur seperti kuali, dandang, tikar, dan piring, diserahkan 14 Maret 2009. Total harganya sekitar Rp 9.625.00. Caleg tersebut juga membantu membuat jalan di kawasan kompleks, dengan jumlah bantuan sekitar Rp 2 juta. Bantuan lainnya yaitu lapangan futsal. Menurut warga, bantuan itu diajukan melalui permohonan kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh Utara, yang ketuanya dijabat Junaidi.
Membantah
Sementara itu, Junaidi yang dikonfirmasi terkait masalah itu membantah dirinya telah memerintahkan utusan untuk mengambil kembali bantuan yang pernah ia berikan. “Saya tidak pernah suruh minta bantuan itu dikembalikan. Saya hanya meminta utusan saya untuk menanyakan warga kenapa tidak ada dukungan sementara banyak bantuan yang sudah saya berikan,” kata Junaidi.
Menurutnya, dulu waktu masa kampanye dirinya menemui warga kompleks dan mengatakan bahwa ia mencalonkan diri sebagai anggota dewan. “Lalu, masyarakat menanyakan apa yang bisa mereka bantu, saya bilang tergantung masyarakat mau dibantu apa. Logikanya, tidak mungkin ada bantuan kalau tidak diminta, apalagi piring dan alat-alat masak,” tukas Junaidi via telepon selularnya.
Sebagai caleg, ia mengaku kecewa terhadap warga kompleks BTN Arun yang tidak memberikan dukungan sama sekali kepada dirinya. “Walaupun dulu waktu saya kasih bantuan itu saya ikhlas. Tapi, masalahnya tidak ada dukungan kepada saya di desa itu. Secara pribadi saya sangat kecewa,” pungkas Ju.
Tagih sarung
Sementara dari Pidie Jaya dilaporkan, pengambilan kembali kain sarung dari masyarakat karena alasan minimnya suara, ternyata bukan hanya dilakukan orangtua dari seorang caleg Partai Pembangunan Daerah (PPD), tetapi juga dilakukan seorang tim sukses (timses) Partai Golkar. Kejadian itu muncul di Desa Lueng Bimba Kecamatan Meurahdua. Sejumlah warga yang pernah menerima bantuan dari timses dimaksud, secara terpisah, Selasa (14/4) membenarkan adanya penagihan itu.
Dikatakan, penarikan kembali bantuan berupa kain sarung itu karena suara yang masuk ke Golkar sangat sedikit. Seorang warga mengaku tidak mempersoalkan hal tersebut. Hanya saja, praktik semacam itu dinilai langka bahkan tak pernah terjadi sama sekali, kecuali pada pemilu 2009 ini. Beberapa ibu rumah tangga lainnya di sana juga mengatakan, selain Golkar, partai lainnya pun ada juga memberikan bantuan kepada masyarakat dalam bentuk barang, semisal pakaian. Partai dimaksud, kata sebuah sumber disana adalah, PBR dan PAN.
Tetapi hingga sejauh ini, tampaknya pihak PAN dan PBR belum ada informasi untuk menarik kembali pemberiannya. “Ya kalau pun diminta, kami pun rela mengembalikannya,” pungkas seorang ibu setengah baya, yang mengira Prohaba adalah orang yang datang untuk meminta balik bantuan tersebut. Penarikan kembali kain sarung oleh timses, kata si ibu tadi, dilakukan sehari setelah pemilu atau tepatnya, Jum’at (10/4).
Beberapa warga terkejut dan tanpa pikir panjang mereka mengambil balik kain sarung yang memang masih utuh disimpan. “Ija krong yang dijok keulon pih, ka dilakeue pulang hai aneuek meutuah. Peue na laen sikrek keu kamoue yang gasien nyoue (kain sarung yang dikasih ke saya pun sudah diminta balik. Apa ada lain untuk kami orang miskin –red),” kata seorang nenek yang tampak sudah berusia lanjut (lansia) di Lueng Bimba.
Seorang ibu rumah tangga lainnya mengaku, bahwa kain yang dikasih kepadanya itu, diambil kembali sehari sebelum pemilu. Alasannya, karena pada hari ‘H’ yang bersangkutan tidak ada di tempat (ke Banda Aceh). Sehingga dipastikan suara pun nihil ke Golkar. “Dua dari empat kain sarung yang diberikan kepada kami, sudah diminta balik sehari sebelum pemilu,” imbuh seorang ibu yang diiyakan suaminya. Beberapa warga Lueng Bimba juga mengaku, bahwa apa yang dilaporkan itu benar adanya.
Diakui
Sementara Timses Partai Golkar Lueng Bimba, yang dikonfirmasi kemarin membenarkan penarikan itu. Katanya, penarikan itu karena suara yang masuk ke partai tersebut sangat sedikit (delapan suara), sehingga sejumlah kain sarung pemberian dari seorang caleg Golkar untuk DPRK Pijay vianya itu terpaksa ditarik kembali. Ditambahkan, dari 53 helai kain sarung pemberian caleg, kata timses tersebut, hanya sepertiga atau sekitar 13 helai saja yang ditarik balik, sedangkan lainnya karena sudah dipakai, sehingga dibiarkan saja.(saf/ag)
--
Harian PROHABA, The Real City Paper