14 April 2009, 07:50

Tak Terpilih, Caleg Mengaku Diguna-gunai

* Bawa Jeruk Purut ke Panwaslu

Ketua Panwaslu Langsa, memegang buah jeruk purut yang dibawa seorang caleg

Ketua Panwaslu Langsa, Isa Alwi memegang buah jeruk purut yang dibawa seorang caleg PNI Marhaenis Dapil Langsa, Fitriani Abdullah di kantor Panwaslu, Senin (13/4). Fitriani menuduh bahwa ia diguna-gunai dengan lima buah jeruk purut untuk tidak bisa lolos menjadi anggota dewan. SERAMBI/YUSMADI YUSUF

LANGSA - Di Aceh, ada-ada saja ulah calon anggota legislatif (caleg) yang tidak terpilih. Selain ada caleg yang membiarkan ayahnya meminta kembali semua kain sarung dari warga yang ternyata tak mencontreng namanya, ada juga caleg yang mengaku diguna-gunai lawan politiknya, sehingga kalah bersaing.

Yang mengaku diguna-gunai itu bernama Fitriani Abdullah (40), perempuan caleg dari Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme. Ia juga membuat pengaduan khusus ke Kantor Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kota Langsa, Senin (13/4), sembari membawa lima buah jeruk (limau) purut untuk dijadikan barang bukti. Limau purut itu ia bungkus rapi dengan plastik. Menurut Fitri, kelima limau purut itu ia peroleh secara magis dalam keadaan tertanam pada lima tempat pemungutan suara (TPS) di Lancang Sira, Desa Alur Dua, Kecamatan Langsa Barat. Di tempat-tempat itulah berlangsung pencontrengan pada 9 April lalu dan nama Fitriani Abdullah tertera di surat suara pemilihan legislatif untuk DPRK Langsa.

Tapi di semua TPS itu pula perolehan suara Fitri sangat jauh dari harapannya. Itu sebab wanita berjilbab ini yakin unsur mistik sudah bermain, sehingga ia kalah telak. Kepada Serambi, Senin (13/4), Fitri mengaku telah merasakan aroma mistis sehari sebelum hari pencontrengan. “Sebelum hari pencontrengan, di rumah saya selalu muncul berbagai aroma yang tidak sedap dan membuat saya tak nyaman,” katanya.

“Limau purut itu kami temukan di TPS 5, 6, 7, dan 8 di Lancang Sira,” katanya. Fitri menduga, hal itu sengaja dilakukan oleh lawan politiknya untuk menjegal langkahnya ke kursi Dewan Kota Langsa. Yang juga aneh, Fitri mengaku kepada Serambi bahwa sejumlah calon pemilih mengeluh padanya tak dapat melihat foto/gambar Fitri di surat suara. “Itu juga karena saya diguna-gunai,” kata Fitri. Ia tampaknya lupa bahwa surat suara pada pemilu tahun ini memang tidak mencantumkan foto/gambar caleg, kecuali bagi calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan nama Fitri tidak termasuk sebagai kandidat DPD dari Aceh.

Di sisi lain, meski sudah menemukan limau purut yang tertanam dan menyebut-nyebut ada lawan politik yang mempecundanginya, tapi Fitri tak menyebut satu nama pun yang dia curigai ke panwaslu. Menanggapi laporan tersebut, Ketua Panwaslu Langsa, Isa Alwi, mengatakan tidak tahu harus bagaimana menyikapi laporan yang unik itu. “Kita tidak tahu bagaimana menindaklanjuti kasus ini. Sebab, tidak ada terlapor, hanya ada jeruk purut sebagai barang bukti dan pengakuan dari pelapor,” jawab Isa rada geli sekaligus menyiratkan kebingungannya.

Ia juga agak dipusingkan dengan barang bukti berupa limau purut itu, karena dipastikan tak tahan lama. Sehingga, bukan saja kasusnya dikhawatirkan kedaluwarsa setelah 3x24 jam, karena tak ada si terlapor, barang bukti yang diantar Fitri itu juga terancam expired dalam tempo 3x24 jam, karena keburu busuk.

Tarik kain sarung
Dari Pidie Jaya (Pijay) dilaporkan hampir sepanjang hari kemarin (Senin, 13/4), warga Pijay memperbincangkan berita tentang ayah seorang caleg yang proaktif menarik kembali kain sarung dari rumah-rumah warga, karena warga setempat tidak banyak yang memilih anaknya dalam pemilu legislatif, 9 April lalu.

Beragam komentar disampaikan warga di warung kopi, rumah, dan kantor pemerintahan menyusul berita aneh yang dilansir media cetak dan elektronik itu kemarin. Sebagaimana diberitakan Serambi, karena tidak banyak warga yang memilih anaknya sebagai caleg dari Partai Pembangunan Daerah (PPD), Azhari Sulaiman kemudian meminta kembali kain sarung yang dibagi-bagikan pada masa kampanye dulu dari warga yang tak memilih anaknya, Mukhtar Azhari, caleg nomor urut 3 di daerah pemilihan (dapil) Meureudu untuk DPRK Pidie Jaya.

Azhari nekat bersikap seperti itu karena kecewa masyarakat ternyata hanya mau menerima bantuan, tanpa mau mencontreng caleg yang dia jagokan yang tak lain anaknya sendiri. Saat ditanyai Serambi di Meureudu, Minggu (12/4), Azhari Sulaiman yang juga pemain seudati Grup Syeh Lah Bangguna itu mengatakan, banyak masyarakat selama masa kampanye bersikap tidak jujur dalam menerima bantuan dari para caleg atau tim sukses caleg.

“Saat ditanyakan kepada warga, mereka mengaku belum ada yang mereka dukung, sehingga saya meminta mereka mendukung anak saya. Padahal, ada warga yang mungkin sudah menerima lima kain sarung dari para caleg, tapi tetap juga menerima sarung pemberian saya. Itu tidak jujur namanya,” ungkap Azhari.

Ia mengaku, saat masa kampanye lalu telah menyerahkan sedikitnya 40 potong kain sarung kepada warga Meuraksa Kupula, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Jumlah yang sama juga diberikan ke desa Gledah dan Rhieng Mancang dalam kecamatan itu. Namun setelah dilakukan penghitungan suara, ternyata di masing-masing desa itu, anaknya hanya memperoleh delapan suara. Oleh karenanya, Azhari nekat bergerilya dari rumah ke rumah untuk menarik kembali kain sarung bantuannya dari sejumlah warga desa. (yuh/ag)