12 April 2009, 08:58
Baca Puisi di Yogya dan Solo
Membandingkan TBA dan TBS
TEATER Arena Taman Budaya Surakarta (TBS), Senin (30/3) malam pekan lalu, memberi saya dan tiga penyair asal Aceh lainnya, Mustafa Ismail, Wina SW1, Budi Arianto dan cerpenis asal Yogya, Dyah Merta tampil secara bergiliran membacakan puisi dan nukilan novel. Dibuka tarikan improvisasi serune kalee oleh Dedi Kalee yang sedang menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. “Baca Puisi Penyair Aceh; Sastra Pasca Tsunami,” demikian bunyi tajuk acaranya.
Kehadiran penyair Aceh di tempat itu memang mendadak. Kepala Divisi Sastra TBS, Wijang Jr Warek menyediakan waktu 30 menit untuk penampil Aceh di sela-sela launching dan diskusi “Littera” Buletin Sastra Dwi Bulanan. Penonton memang tak begitu ramai, tapi tekun mengikuti sampai acara selesai. Sehari sebelumnya, penyair Aceh tampil di Pendopo Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam acara “Malam Sastra Aceh.” Selain berpuisi juga digelar diskusi. Di Yogya pula, penyair Aceh diundang berdiskusi ke Pesantren Hasyim Asy’ari.
Rengkaian pertunjukan dan diskusi di Yogya dan Solo merupakan bagian dari jalinan keakraban antara penyair Aceh dan publik luar Aceh. Boleh jadi, inilah kegiatan sastra perdana sejak Aceh menyudahi konflik dan pulih dari tsunami. Di tempat yang sama, pada tahun 2000, penyair Aceh dan rombongan musikalisasi puisi Deavies Sanggar Matahari Jakarta melakukan kampanye damai, menyusul makin bergolaknya situasi Tanah Aceh. Seniman Solo dan jajaran Taman Budaya Surakarta yang ketika itu dipimpin Murtijono, memberi ruang sangat lebar dan dukungan besar bagi perdamaian Aceh. Penyair Solo, Sosiawan Leak, sangat intens dan teliti mengurusi seluruh keperluan pertunjukan. Penyair Solo juga tampil membacakan puisi-puisi solidaritasnya di sela-sela pertunjukan musikalisasi puisi. Kehadiran kembali penyair Aceh malam itu, antara lain ingin menyampaikan terima kasih Saat tsunami menerjang Aceh, sastrawan Solo juga mengkoordinasikan donasi dan solidaritas kemanusiaan dengan cara menulis puisi bersama-sama dan diterbitkan secara berkala melalui surat kabar setempat, Solo Pos.
Pertautan Aceh-Solo sesungguhnya sudah terjalin kuat sejak 1995. Ketika itu Aceh diundang menghadiri perayaan “50 Tahun Indonesia Merdeka” bersama-sama dengan seniman dari seluruh penjuru Indonesia. Itulah perayaan kemerdekaan yang paling unik dan dilakukan ala seniman. Di Teater Arena itu pula, Teater Mata Banda Aceh mementaskan drama “Poma, Luka Ibu Kita” yang mengisahkan pergolakan Aceh dengan sangat simbolik. Pementasan itu disutradarai Maskirbi (almarhum). Sementara di Pendapa Besar, delegasi penyair Aceh bergantian baca puisi. Malamnya dipersembakan pertunjukan wayang dengan oleh dalang.
TBS dan TBS
Banyak hal yang sudah berubah di Taman Budaya Surakarta atau TBS. Pendapa Besarnya makin mentereng dengan pahatan ornamen yang sangat teliti. Di tempat itu biasa dipentaskan pertunjukan wayang dan musik yang melibatkan penonton sangat banyak. TBS juga dilengkapi Ruang Pameran Kecil, Ruang Pameran Besar, Studio Pedalangan, Studio Musik, Wisma Seni, Pendapa Kecil dan Teater Arena. Sekarang sedang dibangun Teater Tertutup yang sangat mentereng. Areal TBS lebih dari 6 hektar. Sangat luas dan asiri. Wisma Seni-nya bisa menampung 120 tamu. Acara TBS sangat padat. Untuk bidang sastra saja ada 16 mata acara tiap tahun, belum termasuk mata acara dadakan. Paling padat acara musik, tari, dan seni rupa. Tak ada hari tanpa kegiatan di TBS. “Kami seolah tak punya waktu di sini,” ujar Wijang, kepala TBS.
Memang tidak adil rasanya manakala coba membandingkan TBS dengan Taman Budaya Aceh atau TBA yang berada di Jalan Teuku Umar Banda Aceh. Kalangan seniman Banda Aceh mengeluh, TBA sepi kegiatan. Gedung Tertutup yang direhab oleh BRR menelan biaya Rp 2,3 milyar nyatanya tak banyak menolong. Banyak yang mengeluh, seharusnya biaya sebesar itu bisa untuk membangun sebuah Teater Arena dengan kapasitas penonton sampai 200 orang. TBA yang diharapkan menjadi pusat aktivitas bekesenian nyatanya tak tumbuh dan berhasil mengemban fungsi itu. Boleh jadi anggaran kegiatan TBA sangat kecil. Tapi anggaran itu bisa diusulkan naik apabila didukung program yang meyakinkan. Toh dana untuk Aceh sangat melimpah. Tahun anggaran 2008 daya serap anggaran kurang dari 40 persen.
Kerjasama Kesenian antara TBA dengan donatur-donatur luar negeri terbuka lebar untuk ditindaklanjuti. Kunjungan gubernuir Aceh ke beberapa negara asing bisa saja “dititipi” kerjasama bidang kebudayaan. Bagaimanapun, Aceh masih menjadi pusat perhatian dunia akibat tsunami dan konflik. Yang dibutuhkan adalah kreativitas.
Sekali lagi, memang tak pada tempatnya membandingkan TBS dan TBA. Tapi untuk sebuah kebaikan, tentu tak ada salahnya.(fikar w.eda)
Kehadiran penyair Aceh di tempat itu memang mendadak. Kepala Divisi Sastra TBS, Wijang Jr Warek menyediakan waktu 30 menit untuk penampil Aceh di sela-sela launching dan diskusi “Littera” Buletin Sastra Dwi Bulanan. Penonton memang tak begitu ramai, tapi tekun mengikuti sampai acara selesai. Sehari sebelumnya, penyair Aceh tampil di Pendopo Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam acara “Malam Sastra Aceh.” Selain berpuisi juga digelar diskusi. Di Yogya pula, penyair Aceh diundang berdiskusi ke Pesantren Hasyim Asy’ari.
Rengkaian pertunjukan dan diskusi di Yogya dan Solo merupakan bagian dari jalinan keakraban antara penyair Aceh dan publik luar Aceh. Boleh jadi, inilah kegiatan sastra perdana sejak Aceh menyudahi konflik dan pulih dari tsunami. Di tempat yang sama, pada tahun 2000, penyair Aceh dan rombongan musikalisasi puisi Deavies Sanggar Matahari Jakarta melakukan kampanye damai, menyusul makin bergolaknya situasi Tanah Aceh. Seniman Solo dan jajaran Taman Budaya Surakarta yang ketika itu dipimpin Murtijono, memberi ruang sangat lebar dan dukungan besar bagi perdamaian Aceh. Penyair Solo, Sosiawan Leak, sangat intens dan teliti mengurusi seluruh keperluan pertunjukan. Penyair Solo juga tampil membacakan puisi-puisi solidaritasnya di sela-sela pertunjukan musikalisasi puisi. Kehadiran kembali penyair Aceh malam itu, antara lain ingin menyampaikan terima kasih Saat tsunami menerjang Aceh, sastrawan Solo juga mengkoordinasikan donasi dan solidaritas kemanusiaan dengan cara menulis puisi bersama-sama dan diterbitkan secara berkala melalui surat kabar setempat, Solo Pos.
Pertautan Aceh-Solo sesungguhnya sudah terjalin kuat sejak 1995. Ketika itu Aceh diundang menghadiri perayaan “50 Tahun Indonesia Merdeka” bersama-sama dengan seniman dari seluruh penjuru Indonesia. Itulah perayaan kemerdekaan yang paling unik dan dilakukan ala seniman. Di Teater Arena itu pula, Teater Mata Banda Aceh mementaskan drama “Poma, Luka Ibu Kita” yang mengisahkan pergolakan Aceh dengan sangat simbolik. Pementasan itu disutradarai Maskirbi (almarhum). Sementara di Pendapa Besar, delegasi penyair Aceh bergantian baca puisi. Malamnya dipersembakan pertunjukan wayang dengan oleh dalang.
TBS dan TBS
Banyak hal yang sudah berubah di Taman Budaya Surakarta atau TBS. Pendapa Besarnya makin mentereng dengan pahatan ornamen yang sangat teliti. Di tempat itu biasa dipentaskan pertunjukan wayang dan musik yang melibatkan penonton sangat banyak. TBS juga dilengkapi Ruang Pameran Kecil, Ruang Pameran Besar, Studio Pedalangan, Studio Musik, Wisma Seni, Pendapa Kecil dan Teater Arena. Sekarang sedang dibangun Teater Tertutup yang sangat mentereng. Areal TBS lebih dari 6 hektar. Sangat luas dan asiri. Wisma Seni-nya bisa menampung 120 tamu. Acara TBS sangat padat. Untuk bidang sastra saja ada 16 mata acara tiap tahun, belum termasuk mata acara dadakan. Paling padat acara musik, tari, dan seni rupa. Tak ada hari tanpa kegiatan di TBS. “Kami seolah tak punya waktu di sini,” ujar Wijang, kepala TBS.
Memang tidak adil rasanya manakala coba membandingkan TBS dengan Taman Budaya Aceh atau TBA yang berada di Jalan Teuku Umar Banda Aceh. Kalangan seniman Banda Aceh mengeluh, TBA sepi kegiatan. Gedung Tertutup yang direhab oleh BRR menelan biaya Rp 2,3 milyar nyatanya tak banyak menolong. Banyak yang mengeluh, seharusnya biaya sebesar itu bisa untuk membangun sebuah Teater Arena dengan kapasitas penonton sampai 200 orang. TBA yang diharapkan menjadi pusat aktivitas bekesenian nyatanya tak tumbuh dan berhasil mengemban fungsi itu. Boleh jadi anggaran kegiatan TBA sangat kecil. Tapi anggaran itu bisa diusulkan naik apabila didukung program yang meyakinkan. Toh dana untuk Aceh sangat melimpah. Tahun anggaran 2008 daya serap anggaran kurang dari 40 persen.
Kerjasama Kesenian antara TBA dengan donatur-donatur luar negeri terbuka lebar untuk ditindaklanjuti. Kunjungan gubernuir Aceh ke beberapa negara asing bisa saja “dititipi” kerjasama bidang kebudayaan. Bagaimanapun, Aceh masih menjadi pusat perhatian dunia akibat tsunami dan konflik. Yang dibutuhkan adalah kreativitas.
Sekali lagi, memang tak pada tempatnya membandingkan TBS dan TBA. Tapi untuk sebuah kebaikan, tentu tak ada salahnya.(fikar w.eda)