9 Februari 2010, 14:01
Lintas Abdya-Gayo Lues Tembus
Babahrot-Terangon Bisa Ditempuh 2,5 Jam
BLANGPIDIE - Ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dengan Kabupaten Gayo Lues, kini dilaporkan sudah tembus dan sudah dapat dilalui kendaraan roda empat. Berfungsi jalur poros tengah melalui rangkaian pengunungan Bukit Barisan itu, diharapkan semakin memperlancar arus perdagangan barang dan jasa antarkabupaten.
Ruas jalan yang menghubungkan dua kabupaten bertetangga itu dibuka sejak era 90-an, namun kurang berfungsi lantaran masih terdapat tanjakan tinggi sepanjang jalan. Tapi, sekarang, jalur tengah yang membentang dari Babahrot di Abdya dan Terangon di Gayo Lues sepanjang 76 kilometer itu, dilaporkan sudah dapat ditempuh selama 2,5 jam dengan kendaraan roda empat.
Selama konflik melanda Aceh, jalur tersebut lumpuh total akibat terjadi longsoran yang mengakibat badan jalan putus atau tertutup tanah longsor di sejumlah titik lokasi. Karena tidak dilalui waktu itu, permukaan badan jalan ditumbuhi semak belukar. Tapi, setelah konflik reda, peningkatan ruas jalan tersebut terus dipacu dan sekarang sudah bisa digunakan.
Proyek peningkatan jalan mulai dari Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot (Abdya) hingga ke Terangon, Kecamatan Terangon (Gayo Lues) itu dikerjakan dua perusahaan, PT Pelita Nusa sejak dari Terangon menuju Gunung Lipis, daerah perbatasan dengan Kabupaten Abdya sepanjang 38. Sedangkan, sisanya sepanjang 37 km dari arah simpang Ie Mirah, Babahrot menuju daerah perbatasan Kabupaten Gayo Lues dikerjakan PT Hananan.
Camat Babahrot, Agussalim SPd, kepada Serambi, Senin (8/2) kemarin, mengungkapkan bahwa meskipun di beberapa titik masih dalam tahap penyelesaian, namun jalur tengah yang menghubungkan Babahrot-Terangon itu sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. Sedangkan untuk pengendara sepeda motor (sepmor), jalur ini sudah bisa dilalui sejak akhir tahun lalu.
Bisa dipersingkat
Beberapa waktu lalu, Camat Agussalim menesuri jalur tersebut dari Simpang Ie Mirah menuju Terangon butuh waktu 2,5 jam menggunakan mobil. Waktu tempuh bisa dipersingkat menjadi 1,5 atau paling lama 2 jam setelah pekerjaan peningkatan tuntas 100 persen. “Pekerjaan peningkatan jalan dari Simpang Ie Mirah hingga perbatasan Gayo Lues terlihat lamban. Namun, dari perbatasan menuju Terangon kondisinya sudah diperlebar dan mudah dilalui kendaraan bermotor,” katanya.
Diakui bahwa, beberapa titik lokasi masih terdapat tanjakan tinggi antara lain daerah pegunungan Lipis, Pintu Angin dan Aboi-aboi. Malah, badan jalan sekitar 15 km dari jembatan Pucuk Krueng Sapi, masuk Kabupaten Abdya pekerjaan peningkatan belum tuntas, namun dapat dilalui mobil. Bila hujan turun, sepmor sulit melintas lokasi lantaran permukaan badan jalan menjadi licin.
Menyusul berfungsi lintas Babahrot menuju Terangon, menurut Camat Agussalim, arus angkutan barang dan jasa antarkabupaten mulai lancar. Para penggalas ikan (pedagang ikan) dari Abdya bisa memasarkan ikan basah ke Terangon sekitarnya menggunakan sepmor, disamping ikan kering, garam dan kebutuhan lainnya, termasuk pakaian jadi.
Sebaliknya, hasil pertanian dari Terangon, seperti cabe merah, baragam sayur-sayuran sudah dipasarkan di Babahrot, Kuala Batee dan Pasar Blangpidie, Abdya. Tembakau sebagai komuditi andalan Terangon diangkut dengan mobil jenis Hardtop dilengkapi gardan depan melintasi jalur Terangon-Babahrot. “Dengan berfungsinya jalan poros tengah Babahrot-Terongon ini, kita harapkan arus perdagangan antarkabupaten semakin berkembang,” pungkas Camat Agussalim.(nun)
Ruas jalan yang menghubungkan dua kabupaten bertetangga itu dibuka sejak era 90-an, namun kurang berfungsi lantaran masih terdapat tanjakan tinggi sepanjang jalan. Tapi, sekarang, jalur tengah yang membentang dari Babahrot di Abdya dan Terangon di Gayo Lues sepanjang 76 kilometer itu, dilaporkan sudah dapat ditempuh selama 2,5 jam dengan kendaraan roda empat.
Selama konflik melanda Aceh, jalur tersebut lumpuh total akibat terjadi longsoran yang mengakibat badan jalan putus atau tertutup tanah longsor di sejumlah titik lokasi. Karena tidak dilalui waktu itu, permukaan badan jalan ditumbuhi semak belukar. Tapi, setelah konflik reda, peningkatan ruas jalan tersebut terus dipacu dan sekarang sudah bisa digunakan.
Proyek peningkatan jalan mulai dari Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot (Abdya) hingga ke Terangon, Kecamatan Terangon (Gayo Lues) itu dikerjakan dua perusahaan, PT Pelita Nusa sejak dari Terangon menuju Gunung Lipis, daerah perbatasan dengan Kabupaten Abdya sepanjang 38. Sedangkan, sisanya sepanjang 37 km dari arah simpang Ie Mirah, Babahrot menuju daerah perbatasan Kabupaten Gayo Lues dikerjakan PT Hananan.
Camat Babahrot, Agussalim SPd, kepada Serambi, Senin (8/2) kemarin, mengungkapkan bahwa meskipun di beberapa titik masih dalam tahap penyelesaian, namun jalur tengah yang menghubungkan Babahrot-Terangon itu sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. Sedangkan untuk pengendara sepeda motor (sepmor), jalur ini sudah bisa dilalui sejak akhir tahun lalu.
Bisa dipersingkat
Beberapa waktu lalu, Camat Agussalim menesuri jalur tersebut dari Simpang Ie Mirah menuju Terangon butuh waktu 2,5 jam menggunakan mobil. Waktu tempuh bisa dipersingkat menjadi 1,5 atau paling lama 2 jam setelah pekerjaan peningkatan tuntas 100 persen. “Pekerjaan peningkatan jalan dari Simpang Ie Mirah hingga perbatasan Gayo Lues terlihat lamban. Namun, dari perbatasan menuju Terangon kondisinya sudah diperlebar dan mudah dilalui kendaraan bermotor,” katanya.
Diakui bahwa, beberapa titik lokasi masih terdapat tanjakan tinggi antara lain daerah pegunungan Lipis, Pintu Angin dan Aboi-aboi. Malah, badan jalan sekitar 15 km dari jembatan Pucuk Krueng Sapi, masuk Kabupaten Abdya pekerjaan peningkatan belum tuntas, namun dapat dilalui mobil. Bila hujan turun, sepmor sulit melintas lokasi lantaran permukaan badan jalan menjadi licin.
Menyusul berfungsi lintas Babahrot menuju Terangon, menurut Camat Agussalim, arus angkutan barang dan jasa antarkabupaten mulai lancar. Para penggalas ikan (pedagang ikan) dari Abdya bisa memasarkan ikan basah ke Terangon sekitarnya menggunakan sepmor, disamping ikan kering, garam dan kebutuhan lainnya, termasuk pakaian jadi.
Sebaliknya, hasil pertanian dari Terangon, seperti cabe merah, baragam sayur-sayuran sudah dipasarkan di Babahrot, Kuala Batee dan Pasar Blangpidie, Abdya. Tembakau sebagai komuditi andalan Terangon diangkut dengan mobil jenis Hardtop dilengkapi gardan depan melintasi jalur Terangon-Babahrot. “Dengan berfungsinya jalan poros tengah Babahrot-Terongon ini, kita harapkan arus perdagangan antarkabupaten semakin berkembang,” pungkas Camat Agussalim.(nun)