Tue, Feb 9th 2010, 15:38

Diduga Keracunan Usai Sarapan

45 Massa Pro-Irwandi Masuk RSUZA

Keracunan

Sejumlah peserta pegunjukrasa pendukung Irwandi Yusuf dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, yang diduga akibat keracunan usai sarapan pagi di Banda Aceh, Senin (8/2). SERAMBI/BUDI FATRIA

BANDA ACEH - Sebanyak 45 massa pro-Irwandi Yusuf yang datang ke Banda Aceh mengikuti aksi damai memperingati tiga tahun kepemimpinan Gubernur Irwandi Yusuf terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Mereka diduga keracunan usai sarapan nasi gurih berlauk telur plus sambal tauco di Asrama Haji, Banda Aceh, Senin (8/2).

Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUZA, dr Iskandar menyebutkan, ke-45 warga itu dilarikan ke RSUZA sejak pukul 10.30 hingga pukul 14.00 WIB. “Mereka umumnya mengalami gejala mual dan muntah-muntah. Malah saat tiba di rumah sakit ada yang diare,” kata dr Iskandar menjawab wartawan di ruang IGD RSUZA.

Menurut dr Iskandar, dari 45 pasien itu, 30 di antaranya perempuan. Sisanya lelaki. Umumnya dari Kabupaten Bireuen. Tiga pasien di antaranya berumur sekitar 12 tahun. Mereka bernama Irwanti, Amriadi, dan Savriana. Pasien lainnya, Rian dan Munansyah, berumur 15 tahun. “Dari data pasien tertua yang masuk ke IGD berumur 70 tahun bernama Fatimah. Efek yang ditimbulkan sangat tergantung ketahanan tubuh setiap orang,” jelas dr Iskandar.

Ditanya penyebab mereka dilarikan ke RSUZA, menurut Iskandar, diduga keracunan usai sarapan. “Kepastiannya belum ada, sampel sarapan yang mereka makan langsung dibawa ke BPPOM Aceh. Sedangkan muntahan pasien juga sudah kami serahkan ke BPPOM,” jelasnya. BPPOM yang dimaksud adalah Balai Pengawasan dan Pemeriksaan Obat & Makanan yang terletak sekitar 250 meter dari gedung baru RSUZA.

Tujuh dirawat
Menurut dr Iskandar, hasil laboratorium dari BPPOM baru ada sekitar seminggu kemudian. Hingga kemarin sore, Iskandar menyebutkan tujuh pasien harus dirawat ke ruangan di RSUZA. Mereka adalah Tizahra (50), Muhajjar, Zubaidah (38), Ismiati, Mursidah, Yayuk (50), dan Fatimah (70). Sedangkan pasien lainnya, sebelum ke luar RS juga sempat diinfus di ruang IGD dan diberikan obat.  

Hingga pukul 18.00 WIB, Serambi juga menjumpai tiga pasien massa pro-Irwandi yang juga diduga keracunan di ruang IGD RSUZA. Dua di antaranya warga Kabupaten Bireuen, yaitu Nurhayati (55), warga Desa Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa dan Habsah (50), warga Cot Bada, Kecamatan Peusangan. Seorang lagi, Muslem (29), warga Meureudu, Pidie Jaya. Aisyah (65), seorang pasien yang sempat masuk ke RSUZA sekira pukul 13.00 WINB kemarin mengakui dia mual-mual dan muntah setelah sarapan nasi gurih. “Lauknya telur dan tauco. Rasa nasinya memang sudah agak lain,” kata warga Batee Timoh, Jeumpa, Bireuen, ini.  

Ditanggung panitia
Koordinator aksi, Nurmasyithah Ali ketika dihubungi Serambi tadi malam mengakui mereka yang dilarikan ke RSUZA itu adalah massa pendukung Irwandi. Namun, dia membantah mereka keracunan gara-gara mengonsumsi sarapan pagi yang sudah basi. “Mungkin mereka kelelahan, kalau nasi basi tidak mungkin. Apalagi kalau ada yang mengatakan sisa nasi pada malam hari diberikan untuk sarapan. Tidak benar itu. Pada saat malam saja jatah nasinya ada yang kurang. Jadi nggak ada sisa,” jawab Nurmasyithah.  Nurmasyithah kembali menegaskan mereka hanya kelelahan, di samping kurang tidur. “Sekarang tidak ada masalah lagi, mereka semua sudah ke luar RSUZA. Kecuali tiga pasien yang masih dirawat. Biaya untuk semua pasien itu juga ditanggung panitia,” demikian Nurmasyithah.

 Masuk angin
Gubernur Irwandi yang menghubungi Serambi kemarin sore juga berkata senada dengan Masyitah. “Mereka itu bukan keracunan makanan, tapi karena capek, kurang tidur, dan masuk angin,” kata dokter hewan ini. Ia juga memastikan tidak ada pihak yang sengaja menyisipkan racun ke dalam makanan para massa yang pro-Irwandi itu untuk menggembosi aksi tersebut. “Tidak, tidak ada seperti itu. Tidak ada faktor kesengajaan. Di antara yang masuk rumah sakit malah ada yang dari kampung kalahiran saya. Jadi, ini hanya masalah daya tahan personal saja, setelah lelah di perjalanan, kurang tidur, dan capek,” kata Irwandi. (sal/sup/dik)

Akses  m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.