9 Februari 2010, 15:49
Puluhan Ribu Pendemo Dukung Irwandi
* Sebagian Massa Datangi Rumahnya
Massa longmarch
Massa pendukung Pemerintah Aceh melakukan longmarch di Jalan HM Daud Beureeh, menuju Gedung DPRA usai berorasi halaman Kantor Gubernur Banda Aceh, Senin (9/2). Kedatangan massa dari berbagai kabupaten/kota se-Aceh ke Kota Banda Aceh untuk mendukung sekaligus memperingati tiga tahun pemerintahan Aceh dibawah pimpinan Gubernur Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur Muhammad Nazar. SERAMBI/M ANSHAR
Koordinator aksi, Nurmasyithah Ali, mengklaim sekitar 29.000 orang berpartisipasi dalam aksi itu. Mereka datang dari sejumlah kabupaten, terutama dari Bireuen, tanah kelahiran Irwandi Yusuf. Gubernur Irwandi sendiri yang dikonfirmasi kemarin sore yakin, tidak kurang dari 27.000 orang meramaikan aksi tersebut. “Ini data yang saya peroleh dari tempat-tempat konsentrasi massa,” kata Irwandi.
Sementara itu, selang 3,5 jam dari aksi demo itu, puluhan massa yang terdiri atas pria dan perempuan mendatangi rumah kediaman Gubernur Aceh Irwandi Yusuf di Jalan Salam, Lampriek, Banda Aceh. Massa yang datang sore itu sempat mendobrak pintu pagar rumah, meski tujuannya hanya ingin berjumpa dengan Gubernur Irwandi. Momen itu mereka gunakan untuk bertanya langsung kepada Irwandi tentang nasib proposal bantuan ekonomi yang sudah lama diajukan, tapi hingga kemarin belum ada juga realisasinya.
Gubernur Irwandi yang dikonfirmasi Serambi kemarin petang, mengakui kalau rumahnya sempat didatangi puluhan massa. Tapi ia membantah bahwa pintu rumahnya sempat didobrak, sebagaimana diisukan beberapa pihak. “Ya mereka ada datang, tapi tidak ada keributan apa pun. Mereka masuk melalui pintu pagar dan kemudian berdiri di teras rumah. Tidak ada yang sampai masuk ke ruang tamu, apalagi sampai mendobrak pintu rumah,” Irwandi mengklarifikasi.
Menurutnya, warga memang sering datang ke rumahnya untuk berbagai kepentingan. Kebetulan saja kemarin ada celah, pintu pagar agak terbuka, lalu mereka masuk ramai-ramai. Tapi, menurut Irwandi, mereka masuk ke teras rumahnya dan berdialog dengan cara sopan. Namun, sebuah sumber menyatakan, puluhan massa yang mendatangi rumah orang nomor satu di Aceh itu nyaris telibat bentrok dengan para petugas yang menjaga rumah tersebut. Sebab, massa mendesak untuk masuk ke rumah untuk bertemu langsung dengan Gubernur Irwandi. Tapi penjaga tetap menghalau massa hingga beberapa saat tertahan di depan pintu pagar. Tapi saat ada celah, tiba-tiba pintu pagar yang terbuat dari besi itu berhasil mereka terobos. Namun, warga hanya bertahan di teras rumah, karena pintu rumah terkunci.
Karena tak berhasil masuk ke dalam rumah untuk menjumpai Irwandi, massa menjadi kesal dan mereka menumpahkan unek-uneknya dengan kata-kata yang agak kasar. Tapi kemudian massa berhasil diredam oleh para petugas jaga, sehingga mereka menghentikan aksinya dan kembali pulang dengan tertib. Bahkan terbetik info, massa tersebut baru mau pulang setelah diberi ongkos transpor.
Jalan dialihkan
Sebelumnya, longmarch ribuan massa pendukung Irwandi dari basecamp mereka di Asrama Haji, Banda Aceh, menuju Kantor Gubernur dan Gedung DPRA menimbulkan kepadatan yang sifnifikan, meski tidak sampai macet, di Jalan Teuku Nyak Arief dan Teungku Daud Beureueh ke arah kota. Namun, polisi cukup siaga mengatur lalu lintas. Pengguna kendaraan dari arah Darussalam dialihkan ke Jalan T Panglima Nyak Makam.
Sekira pukul 09.00 WIB, massa mendatangi Kantor Gubernur Aceh. Koordinator aksi, Nurmasyithah Ali dalam orasinya menyebutkan kedatangan mereka untuk mendukung Irwandi yang kemarin genap memimpin Aceh tiga tahun agar di masa mendatang melanjutkan memimpin Aceh. “Drh H Irwandi alias Tgk Agam telah berusaha membawa Pemerintah Aceh ke arah yang lebih berpihak kepada rakyat. Program-program penguatan rakyat, seperti alokasi dana gampong (ADG) telah diluncurkan, puluhan ribu anak yatim telah dan akan terus disantuni, serta ribuan rumah untuk duafa telah dibangun,” teriak Nurmasyithah. Kedatangan ribuan massa didominasi kaum perempuan itu tidak disambut Gubernur Irwandi. Massa disambut Sekda Aceh, Husni Bahri TOB serta beberapa pejabat di Kantor Gubernur Aceh.
Bebaskan tapol/napol
Selain memuji dan mendukung berbagai program Irwandi, seperti pemberian beasiswa ke luar negeri, Nurmasyithah juga mendesak Pemerintah Aceh membebaskan tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol) Aceh. Kemudian, perempuan yang disebut-sebut mantan Inong Balee itu membacakan tuntutan mereka. Isi tuntutan, mengajak pemerintah dan semua komponen di Aceh bersama menjaga perdamaian, mengesahkan UUPA sesuai MoU Helsinki, bebaskan tapol dan napol di Aceh, selamatkan perdamaian melalui dukungan kepada Pemerintah Aceh lewat transisi damai, serta waspadai para oportunis politik yang ingin merusak perdamaian Aceh.
Selanjutnya, Nurmasyithah menyerahkan selebaran berisi tuntutan itu serta setangkai bunga melalui Sekda Husni Bahri. Menurut dia, bunga itu sebagai tanda cinta kepada Pemerintah Aceh di bawah pimpinan Irwandi. Aksi damai di halaman depan Kantor Gubernur dikawal petugas dari Polda Aceh dan Satpol PP Aceh.
Sekitar satu jam berorasi di halaman depan Kantor Gubernur, selanjutnya massa bergerak ke Gedung DPRA. Panjang massa yang melakukan longmarch sekitar 500 meter. Begitupun, ribuan massa lainnya tidak ikut longmarch atau hanya menumpuk di kawasan Jalan T Nyak Arief di depan Kantor Gubernur dan Asrama Haji. Aparat kepolisian tampak siaga menertibkan arus lalu lintas sehingga tidak menimbulkan kemacetan yang berarti. Pengguna kendaraan dari arah Darussalam setiba di depan Kantor Gubernur diarahkan berbelok melewati Jalan T Panglimam Nyak Makam. Sekira pukul 11.00 WIB, massa tiba di Gedung DPRA. Tuntutan mereka, sama seperti halnya di Kantor Gubernur. Di halaman depan Gedung DPRA, massa diterima sejumlah anggota DPRA, antara lain, Adnan Beuransyah, Ridwan Abu Bakar, dan Yahya. Ketiganya dari Partai Aceh. Mereka mendukung tuntutan massa.
Dana dari pendukung
Di Gedung DPRA, Nurmasyitah Ali juga mengklarifikasi rumor yang menyebutkan dirinya menerima uang Rp 1,3 miliar dari Gubernur Irwandi untuk menjalankan aksi itu. “Isu menyebutkan saya menerima uang dari Gubernur Irwandi 1,3 miliar rupiah untuk menjalankan aksi ini adalah fitnah. Tapi dana untuk membuat aksi ini berasal dari pendukung Pak Irwandi di Thailand, Filipina, dan pendukung dari negara lainnya,” tegas Nurmasyithah.
Saat aksi itu berlangsung, ribuan pengunjuk rasa, rata-rata perempuan berusia tua hanya memegang spanduk besar berisi dukungan terhadap Irwandi. Sekali-kali mengucapkan, “Hidup Pak Irwandi”. Sejumlah perempuan dari Bireuen yang mengaku petani menggunakan tudung kepala yang biasa mereka gunakan ke sawah. Mereka umumnya mengaku ke Banda Aceh karena mendapat perjalanan gratis sekaligus dikasih makan gratis. Malah ada pula yang difasilitasi naik bus untuk mengunjungi Museum Tsunami Aceh di Blower, Banda Aceh.
Sedangkan puluhan ibu dari Aceh Barat, tampak menggunakan pakaian putih-putih. Mereka mengaku sama sekali tak menduga kedatangan mereka ke Banda Aceh untuk berunjuk rasa. Alasannya, ibu-ibu dari kelompok zikir di Aceh Barat ini mengakui ketika di kampung mereka mengaku diajak ke Banda Aceh untuk wirid Yasin memperingati tiga tahun kepemimpinan Irwandi.
Aksi damai di Gedung DPRA itu berakhir sekirap pukul 12.00 WIB. Sesaat massa bubar, hujan pun turun. Dukungan terhadap tiga tahun kepemipinan Irwandi, juga tampak dari baliho di depan Satpol PP Aceh, depan Infokom Aceh, dan di depan Kantor Gubernur. Namun, antah kenapa, semua dukungan itu ditujukan kepada Gubernur seorang, tanpa menyebut nama Wakil Gubernur, Muhammad Nazar. (sup/sal)
Baca juga :
“Katanya Berzikir, Ternyata Diajak Demo”
Text Ads
Suzuki Grand Escudo XL7
Rumah Disewakan di Lamlagang