Mon, Jan 18th 2010, 14:37
Di Geumpang
Kerbau Mati Bergelimpangan, Disnak Kehabisan Stok Vaksin
SIGLI - Peternak di Kecamatan Geumpang, sejak beberapa waktu terakhir diresahkan kasus kematian kerbau yang diduga akibat penyakit ngorok. Pihak Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie mengaku sudah turun ke lapangan melakukan pendataan dan antisipasi, namun stok vaksin habis sehingga harus menunggu lagi pengiriman dari provinsi. Menurut laporan yang diterima Serambi, sebanyak 20 ekor kerbau milik masyarakat Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie dilaporkan mati mendadak. Kasus itu terjadi sejak awal Januari lalu.
Keuchik Gampong Pucok, Kecamatan Geumpang, Darmawan, mengatakan, sejak awal Januari 2010, sekitar 30 kerbau milik warga terserang penyakit ngorok. Dari jumlah itu, 10 ekor berhasil disembelih sedangkan 20 ekor lainnya dibiarkan mati. Ternak kerbau yang mati tersebar di tiga desa, yaitu Gampong Pucok, Leupu, dan Gampong Pulo Lhoh. Ternak tersebut ada yang ditemukan mati di kandang dan ada juga yang sedang merumput di lahan-lahan gembalaan.
Keuchik Gampong Pucok tak tahu persis penyebab matinya ternak tersebut, namun menurut dugaan warga kerbau itu mati mendadak akibat penyakit ngorok. “Biasanya ketika fisik kerbau sudah lemas serta mengeluarkan air liur, maka dalam hitungan menit kerbau langsung menggelepar tumbang,” kata Keuchik Darmawan. Dikatakannya, jika gejala penyakit ngorok telah mulai menyerang kerbau, petugas lapangan tepat waktu melakukan vaksinasi. Namun, kata Darmawan, akibat tidak cukupnya persediaan vaksin menyebabkan virus penyakit tersebut dengan mudah menjangkiti ternak.
Vaksin habis
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie, Ir M Nasir yang dihubungi Serambi, Minggu (17/1) menjelaskan, pihaknya telah turun langsung ke lapangan terkait kasus matinya kerbau warga Geumpang. Berdasarkan pendataan di lapangan, tercatat delapan ekor kerbau warga yang mati. Rinciannya, empat ekor kerbau piaraan masyarakat dan empat lagi milik kelompok tani yang bersumber dari dana APBA.
Petugas Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie, menurut Nasir telah menyarankan kepada warga agar mengubur bangkai kerbau guna memutuskan siklus virus penyakit ngorok. “Kita juga melakukan vaksinasi,” kata Nasir. Menurutnya, penyebab matinya kerbau warga Geumpang itu lantaran virus penyakit terpengaruh dengan iklim dari Aceh Barat.
Selama ini, lanjutnya, vaksin yang digunakan untuk mengantisipasi penyakit ternak merupakan bantuan dari provinsi. Namun saat ini, stok vaksin di Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie habis, sehingga harus menunggu lagi kiriman dari provinsi. “Vaksin yang kita berikan kepada masyarakat sering kurang. Sekarang ini saja, kita terpaksa menunggu kiriman lagi dari provinsi,” ungkap Nasir. (naz)
Keuchik Gampong Pucok, Kecamatan Geumpang, Darmawan, mengatakan, sejak awal Januari 2010, sekitar 30 kerbau milik warga terserang penyakit ngorok. Dari jumlah itu, 10 ekor berhasil disembelih sedangkan 20 ekor lainnya dibiarkan mati. Ternak kerbau yang mati tersebar di tiga desa, yaitu Gampong Pucok, Leupu, dan Gampong Pulo Lhoh. Ternak tersebut ada yang ditemukan mati di kandang dan ada juga yang sedang merumput di lahan-lahan gembalaan.
Keuchik Gampong Pucok tak tahu persis penyebab matinya ternak tersebut, namun menurut dugaan warga kerbau itu mati mendadak akibat penyakit ngorok. “Biasanya ketika fisik kerbau sudah lemas serta mengeluarkan air liur, maka dalam hitungan menit kerbau langsung menggelepar tumbang,” kata Keuchik Darmawan. Dikatakannya, jika gejala penyakit ngorok telah mulai menyerang kerbau, petugas lapangan tepat waktu melakukan vaksinasi. Namun, kata Darmawan, akibat tidak cukupnya persediaan vaksin menyebabkan virus penyakit tersebut dengan mudah menjangkiti ternak.
Vaksin habis
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie, Ir M Nasir yang dihubungi Serambi, Minggu (17/1) menjelaskan, pihaknya telah turun langsung ke lapangan terkait kasus matinya kerbau warga Geumpang. Berdasarkan pendataan di lapangan, tercatat delapan ekor kerbau warga yang mati. Rinciannya, empat ekor kerbau piaraan masyarakat dan empat lagi milik kelompok tani yang bersumber dari dana APBA.
Petugas Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie, menurut Nasir telah menyarankan kepada warga agar mengubur bangkai kerbau guna memutuskan siklus virus penyakit ngorok. “Kita juga melakukan vaksinasi,” kata Nasir. Menurutnya, penyebab matinya kerbau warga Geumpang itu lantaran virus penyakit terpengaruh dengan iklim dari Aceh Barat.
Selama ini, lanjutnya, vaksin yang digunakan untuk mengantisipasi penyakit ternak merupakan bantuan dari provinsi. Namun saat ini, stok vaksin di Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie habis, sehingga harus menunggu lagi kiriman dari provinsi. “Vaksin yang kita berikan kepada masyarakat sering kurang. Sekarang ini saja, kita terpaksa menunggu kiriman lagi dari provinsi,” ungkap Nasir. (naz)