5 Januari 2010, 15:01

Diiming-iming Jadi Satpol PP

Belasan Pemuda Tertipu

* Puluhan Juta Rupiah Nyaris Raib

BANDA ACEH - Penipuan dengan iming-iming bisa meluluskan orang menjadi tenaga kontrak anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah ((Satpol PP dan WH) Aceh dengan mengutip biaya sebesar Rp 7 juta/orang, kini mulai terjadi. Sebanyak 18 pemuda lulusan SMA dari pantai barat-selatan Aceh sudah menjadi korbannya dan nyaris saja uang mereka sebesar Rp 94.650.000 raib.

Kejadian itu terungkap berdasarkan keterangan Hasbi Ag dan M Nasir, keduanya asal Manggeng, Aceh Barat Daya (Abdya), yang mendatangi Newsroom Serambi, Senin (4/1) malam.  Keduanya mengaku sebagai orang tua wali yang mewakili beberapa pemuda lulusan SMA asal pantai barat-selatan Aceh yang menjadi korban penipuan tersebut.

Menurut Hasbi, kejadian itu berawal ketika ia sedang duduk minum kopi pada akhir Desember 2009 pada sebuah warkop di kawasan Jambo Tape, Banda Aceh, dan melihat banyak anak muda membawa map. “Itu orang-orang yang masuk Satpol PP/WH,” ujar Hasbi sambil mengutip keterangan Jakfar yang saat itu duduk di sampingnya.

Jakfar merupakan teman yang baru dikenal Hasbi beberapa waktu lalu. Menurut Hasbi, saat itu Jakfar langsung memberi respons ketika ia menanyakan bagaimana cara untuk bisa masuk Satpol PP/WH. “Nanti kita hubungi Teungku Is --panggilan akrab Tgk Iswadi H Jamil. Karena Teungku Is itu yang urus semua masalah ini dan tidak perlu lagi kita berurusan dengan dinas,” kata Hasbi mengutip keterangan Jakfar.

Untuk tahun 2009-2010 Pemerintah Aceh memang akan menerima Satpol PP/WH sebanyak 2.500 orang dan telah diusulkan anggaran ke DPRA sebesar Rp 105 miliar untuk gaji mereka sebesar Rp 1,5 juta/bulan/orang.  Berdasarkan keterangan Jakfar, kata Hasbi, jatah yang direkrut hanya tinggal 25 orang lagi dan ini penerimaan terakhir.

Sedangkan persyaratan yang harus dilengkapi berupa fotokopi KTP, fotokopi ijazah SD/SMP/SMA sebanyak tiga rangkap, SKCK dari Polres setempat, kartu kuning dari Depnaker setempat, dan kir kesehatan dari dokter rumah sakit jiwa (RSJ).  Setelah pertemuan itu, kata Hasbi, ia langsung pulang ke kampung untuk menjemput adik ipar dan kemenakannya yang sudah lulus SMA. Sesampai di kampung, ia ditelepon Jakfar yang mengabarkan bahwa anak-anak tersebut akan masuk latihan pada hari Senin (4/1), dan jangan lupa dibawa biaya pengurusan yang jumlahnya tidak disebutkan.

“Oleh karenanya, sebelum hari Senin semua sudah harus berada di Banda Aceh untuk mengurus berbagai perlengkapan dan kebutuhan,” kata Hasbi mengutip keterangan Jakfar. Hasbi bersama M Nasir dan Tgk Adnan berangkat lebih dulu ke Banda Aceh dan tiba Jumat (1/1). Setiba di Banda Aceh, berdasarkan petunjuk Jakfar, katanya, ia diminta menjumpai Khalidin, salah seorang staf Satpol PP/WH Aceh. Ketika itu ia mendapat informasi dari Kalidin bahwa benar masih ada sisa penerimaan pegawai kontrak sebanyak 25 orang lagi, dan ia juga menyebutkan kebutuhan dana untuk biaya latihan, pembelian pakaian dinas, dan pakaian latihan.

Sedangkan 18 pemuda yang berasal yang berasal dari Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Abdya, dan Aceh Selatan itu berangkat ke Banda Aceh, Sabtu (2/1) malam dan tiba Minggu (3/1) pagi. Calon Satpol PP/WH tersebut setiba di Banda Aceh ditampung di kantor kawasan Jalan T Nyak Makam, samping Warkop Cut Nun 2 atau samping Hotel Hermes Palace.

Pada malamnya, sekitar pukul 21.00 WIB, mereka diminta menyetor uang kepada Jakfar sebesar Rp 7 juta/orang untuk biaya latihan. Karena ada di antara mereka yang tidak membawa uang cukup, maka jumlah uang yang disetor bervariasi, antara Rp 3 juta-Rp 7 juta/orang atau total seluruhnya Rp 94.650.000.

Yang mencurigakan mereka kemudian adalah biaya untuk pembelian pakaian tidak lagi ditanggung pihak Satpol PP dan WH, melainkan harus dibeli masing-masing oleh anak-anak tersebut. Melihat gelagat mencurigakan ini, pihaknya meminta untuk mendatangi rumah Khalidin guna menanyakan perihal yang tidak sesuai perjanjian.

Akan tetapi, Is hanya membawa empat anak calon Satpol PP/WH ke rumah Khalidin dan tidak mengikutsertakan Hasbi dan kawan-kawan. Anehnya, sesampai di rumah tersebut, anak-anak itu tidak diperbolehkan masuk dan hanya menunggu di luar.  “Hal ini kami ketahui ketika kami menyusul belakangan ke rumah tersebut. Saya langsung menghubungi lewat hp Saudara M Nasir supaya uang yang sudah berada di tangan Jakfar diawasi, karena ada gelagat yang mencurigakan,” ujar Hasbi.

Ketika semua sudah berkumpul kembali di ruko tersebut, M Nasir langsung meminta kembali uang tersebut dari Jakfar. Saat uang itu diminta kembali memang tidak terjadi perlawanan apa pun. Jakfar menyerahkan kepada M Nasir uang yang sudah dia masukkan ke dalam tas. “Kami langsung menghitung dan ternyata masih utuh,” ungkap Nasir.

Kemudian, malam itu juga uang tersebut dibagikan kembali kepada para pemiliknya dan mereka langsung pulang ke kampung halaman masing-masing dalam suasana penuh kekecewaan. “Soalnya, ada di antara mereka yang terpaksa menjual sepeda motor dengan harga murah. Tapi ujung-ujungnya ditipu. Ini sangat menyakitkan kami,” ungkap Nasir. Sementara itu, Tgk Iswadi yang coba dihubungi Serambi, tadi malam tidak berhasil, karena hand phonenya tidak aktif.(sup)