Wed, Dec 9th 2009, 11:05

Tamu Kita

DR Ella Meilianda M.Sc; “Si Peramal” dari Enschede

SALAH satu makalah yang cukup menarik perhatian peserta konferensi internasional masalah tsunami dan pemulihannya (AIWEST-DR 2009) adalah ramalan bakal terjadinya tsunami kecil dalam jangka 20-30 tahun ke depan. Sebuah jangka waktu yang cukup dekat. Prediksi lumayan heboh ini diungkapkan oleh DR. Ella Melianda, M.Sc yang membentang hasil risetnya Selasa (24/11) bulan lalu dalam event tahunan yang diprakarasai oleh Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Unsyiah dan berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.

Penelitian langka
Hasil riset Ella selama 3,5 tahun ketika menempuh program doktor di Universitas Twente, Enschede, Belanda itu spontan mendapat perhatian luas dari para peneliti mancanegara lainnya yang memenuhi arena itu. Beberapa peneliti dari Austria , Belanda , India dan sejumlah negara lain terlihat mengerubungi perempuan kelahiran Banda Aceh, 30 Mei 1975 itu selepas dia mempresentasikan makalahnya.

“Data-datanya cukup lengkap. Analisisnya tajam. Ini sebuah hasil riset ilmiah yang patut diperhatikan semua pihak,” kata DR. Robert Faber, salah seorang ahli geologi dari Austria . Bahkan seorang peserta asal Belanda berani menyebut presentasi DR Ella adalah yang terbaik sejauh pemyelenggaraan acara tersebut. Tak pelak, julukan “Peramal dari Enschede” pun mendadak melekat pada perempuan bertubuh mungil itu.

Tentang prediksi tsunami kecil itu, Ella mengaku mengerjakan topic itu menjelang akhir program S3-nya di Belanda. “Kalau level di Belanda, saya sudah pernah mengangkat topik ini di ITC PhD Day 2009 di ITC, Enschede, Belanda. Di forum seminar ini Ph D Student dalam ITC sendiri sangat antusias dan surprise dengan temuan saya ini, karena sangat jarang peneliti lain mengemukakan tentang adanya tsunami-tsunami kecil,” ujar Ella yang mempertahankan disertasi doktornya di Enschede 19 Juni 2009 lalu. dan, tentu saja, rakyat Naggroe Aceh akan sangat berbangga hati dengan kehadiran satu-satunya perempuan peneliti tsunami asli tanah Aceh.

Diwawancarai Radio Netherland
“Beberapa bulan ujian disertasi, saya sempat diwawancara tentang topik riset saya oleh koran mahasiswa di Universitas Twente. Beberapa hari setelah mempertahankan disertasi, saya diundang oleh Radio Netherland di Hilversum, Belanda untuk diwawancarai mengenai topik tersebut. Wawancaranya dilakukan secara interaktif dan online hingga sempat diakses juga oleh radio lokal di Banda Aceh. Kala itu, pendengar radio di Banda Aceh bisa menyimak wawancara tersebut dan bisa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan secara live,” kisah Ella lagi.

“Para peneliti tsunami mancanegara sangat tertarik akan hasil-hasil penelitian yang saya kemukakan. Karena, menurut mereka, topik ini sangat jarang diangkat. Terutama dalam hal perbandingan pengaruh tectono-tsunami dengan sea level rise pada daerah pantai di daerah tektonik. Professor penguji saya pernah mengatakan bahwa sangat jarang sekarang ini peneliti-peneliti muda yang mau mengkaitkan perubahan geomorfologi alam di masa lalu dengan peristiwa-peristiwa kebencanaan dan melihat dampaknya pada perkembangan suatu daerah, khususnya daerah pantai, di masa yang akan dating,” imbuhnya.

Ella juga telah mempresentasikan hasil penelitiannya tentang tingkat kerusakan pantai di Banda Aceh akibat gempa dan tsunami 2004 di International Conference on Coastal Sediments 2007 di New Orleans, USA pada bulan Mei 2007 dan di Physics of Estuaries and Coastal Seas (PECS) pada bulan Agustus 2008 di Liverpool, England.

Penurunan massa daratan
Dalam riset itu, Ella melakukan investigasi mendalam terkait geomorfologi untuk menganalisis respon morfologi pantai Banda Aceh yaitu tingkat kerusakan dan perkembangan pantai sebelum dan sesudah tsunami. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan morfologi pantai tersebut di masa yang akan datang karena pantai tersebut sangat rentan terhadap intervensi penurunan massa daratan dan tsunami.

“Berdasarkan kenyataan, sangat sedikit yang diketahui tentang faktor-faktor gaya yang terlibat dalam sejarah perkembangan morfologi pantai Banda Aceh. Sebab itu maksud spesifik penelitian ini ditujukan untuk mengisi gap pengetahuan tentang lokasi penelitian, yaitu dengan menginvestigasi faktor-faktor gaya yang membentuk struktur geologi pantai tersebut secara umum, begitu juga besaran dan frekuensi dari kejadian tsunami dan penurunan massa daratan (land subsidence) yang terlibat dalam pembentukan morfologi pantai Banda Aceh di masa lalu. Penelitian ini mencakup rentang waktu jangka panjang, beberapa tahun ke depan,” ulas alumni Twente University Belanda itu panjang lebar.

Dalam menyelesaikan risetnya, Ella menggunakan metode Conceptual Modelling melalui pendekatan matematis dan statistik untuk memprediksi perkembangan pantai ke depan. Sedangkan untuk mengetahui struktur morfologi pantai dilakukan menggunakan data spasial.

Tsunami 30 tahun lagi?
“Kejadian tsunami Desember 2004 memang merupakan bencana yang luar biasa. Jangka waktu kejadian tsunami yang sama, menurut prediksi para ahli, adalah 200 tahun ke depan. Namun demikian, tingginya frekuensi kejadian gempa di kawasan Aceh mengakibatkan probabilitas penurunan massa daratan, maka hasil studi kami tsunami berskala kecil akan terjadi sekali dalam 20-30 tahun ke depan. Ini mengakibatkan terhambatnya perkembangan pantai di Banda Aceh dalam kurun waktu 100 tahunan. Tsunami-tsunami kecil yang tercatat dalam sejarah menunjukkan terjadinya kerusakan pantai dan kemunduran garis pantai yang cukup signifikan di wilayah ini. Laju kemunduran garis pantai tersebut dapat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laju kemunduran garis pantai akibat gejala kenaikan muka air laut,” imbuh dosen dan peneliti di Teknik Sipil Unsyiah itu lagi.

Untuk mendukung data risetnya itu, Ella mengumpulkan berbagai macam data topologi Banda Aceh dari zaman Belanda, lalu data citra satelit, perubahan permukaan air laut sejak zaman Holocene (berkisar 11.000 tahun silam), literatur arkeologi Banda Aceh, data kedalaman laut Andaman hingga sejarah kegempaannya. Darimana dia bisa memperoleh data sebanyak itu?

Diundang ke Jerman
“Awalnya cukup sulit. Bahkan saya hampir putus asa. Saya lalu mencoba melakukan kontak intensif dengan agen-agen citra satelit di seluruh dunia. Alhamdulilah, sangat membantu. Lalu dengan pusat studi kepurbakalaan di Belanda (KITLV), juga pusat-pusat studi terkait yang ada di Aceh dan aneka sumber lainnya di tanah air,” kata Ella yang mendapat dukungan dana risetnya dari Universitas Twente dan TPSDP (hibah Asian Development Bank untuk Unsyiah).

Ella bisa disebut satu dari sedikit peneliti perempuan bidang geomorfologi kepantaian yang ada di tanah air. Dia sendiri telah mempublikasikan hasil risetnya itu dalam berbagai konferensi yang diadakan di negara-negara Eropa dan AS. Istri dari Dedy Alfian, M.Sc itu bahkan saat ini diundang sebagai ilmuwan tamu (visiting scientist) di Universitas Bremen , Jerman. Ella bersama dengan para peneliti dunia lainnya akan menyelesaikan sebuah proyek Intercoast yang cukup prestisius.

“Ya, saya akan bekerja sebagai peneliti tamu selama 2 tahun di Universitas Bremen dalam proyek Intercoast untuk melakukan riset bersama peneliti mancanegara tentang laut dan pesisir pantai,” pungkas ibu satu anak itu menutup perbincangan. (zulkarnain

--
Tabloid KONTRAS Nomor : 518 | Tahun XI 3 - 9 Desember 2009