Fri, Nov 6th 2009, 12:09
Tiga Kabupaten Banjir
* Ribuan Rumah Terendam
Bandardua banjir
Akibat diguyur hujan, sejumlah desa di Bandardua, Pidie Jaya digenangi banjir, Kamis (5/11).SERAMBI/ABDULLAH GANI
Cuaca yang tidak bersahabat juga menyebabkan Kapal Motor (KM) Putri Meutuah yang sedang mencari ikan di perairan Kota Lhokseumawe tenggelam diterjang badai, Kamis (5/11) subuh. Ke-32 awaknya selamat, namun kerugian materiil mencapai Rp 1 miliar. Dari Aceh Jaya dilaporkan, hubungan darat Calang-Lamno, Kamis sore hingga tadi malam lumpuh setelah ruas jalan yang dibangun pada masa tanggap darurat pascatsunami di Meudang Ghon, Kecamatan Jaya, itu dilanda banjir. Sebelumnya, wilayah itu diguyur hujan lebat sejak dua hari lalu.
Banjir setinggi 80 cm itu menyebabkan puluhan mobil dari Banda Aceh ke Calang terjebak di Lamno, karena tidak bisa melintasi genangan air. Sebelumnya, mobil-mobil tersebut bisa melewati jalur alternatif menggunakan rakit Lambeuso, di Kecamatan Jaya. Tapi, karena debit air di sungai itu pun meninggi serta deras, awak rakit tak berani mengoperasikannya. Alhasil, para pengemudi hanya bisa pasrah menunggu air surut.
Kadis Pekerjaan Umum (PU) Aceh Jaya, Ir Nurman DS, yang menghubungi Serambi tadi malam melaporkan, banjir itu menyebabkan ruas jalan Meudang Ghon tak bisa dilalui. Ironisnya lagi, jalur alternatif melalui rakit pun tak bisa dilewati. “Para awak mobil tertahan sejak pukul 17.00 WIB,” jelas Nurman. Dua jam kemudian, pukul 19.00 WIB, Nurman melaporkan lagi bahwa mobil dinas jenis double cabin yang dia tumpangi bersama sopir tertimbun longsor di Gunung Babah Awe, Kecamatan Sampoiniet.
Mobil itu sedang dalam perjalanan pulang dari Lamno ke Calang. Tiba-tiba tebing bukit longsor setinggi 10 meter di Babah Awe, Kecamatan Sampoiniet. Longsoran tersebut menimbun mobilnya. “Alhamdulilah, saya dan sopir berhasil lolos dari musibah saat bongkahan tanah menimpa mobil saya,” kata Nurman.
Untuk mengevakuasi mobil dinasnya, Nurman meminta tolong kepada awak PT Samgyong untuk menariknya. Perusahaan asal Korea itu memang mempunyai alat berat, karena sedang mengerjakan jalan yang didanai USAID di tempat yang tak jauh dari lokasi longsor tersebut. Menurutnya, banjir yang melanda Meudang Ghon sering terjadi manakala turun hujan deras. Dia berharap, pihak USAID bisa mendorong percepatan pembangunan jalan di lintasan itu.
300 Rumah terendam
Dari Aceh Besar dilaporkan, sekitar 300 rumah di tiga desa dalam Kemukiman Glee Bruek, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Kamis sore, terendam banjir. Air yang tumpah ruah dari atas Gunung Geurutee itu membuat ratusan warga di tiga desa yang terendam banjir, meliputi Desa Meunasah Lhok, Gampong Pasi, dan Gampong Puding.
Info tentang banjir di Kecamatan Lhoong itu pertama kali diperoleh Serambi dari Kepala Divisi Kajian dan Advokasi Kebijakan Publik Gerakan Rakyat Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Isra Safril, yang baru pulang dari Meulaboh, ibu kota Aceh Barat. Menurut Isra, sore itu air tampak mengucur deras dari atas Gunung Geurutee. Selain merendam rumah warga, air juga masuk ke masjid serta sebuah sekolah dasar. “Kalau kita lihat kondisi warga cukup memprihatinkan. Sebagian besar dari mereka mengungsi. Sementara, bantuan belum juga sampai,” ujar Isra pukul 17.33 WIB kemarin.
Menurutnya, meski ada sebuah sungai di antara tiga desa itu, tapi debit air yang begitu besar turun dari perbukitan itu, membuat sungai tersebut tak mampu menampung. Akhirnya, air meluber ke rumah warga dan fasilitas umum lainnya. Camat Lhoong, Drs Sabirin MD, mengakui ratusan rumah di tiga desa dalam Kecamatan Lhoong, terendam banjir, kemarin. Menurutnya, ketiga desa itu memang paling sering dilanda banjir. Sebab, rumah warga di tiga desa itu umumnya dekat dengan kaki Gunung Geurutee. Tiap kali turun hujan, air langsung mengucur dari bukit dan meluber ke rumah-rumah penduduk.
Selain itu, ungkap Sabirin, selokan yang dibangun donatur di tiga desa itu tak berfungsi dan tak terawat dengan baik. Dampaknya, setiap turun hujan, air dari atas bukit tidak tertampung dan teraliri dengan baik. Untuk menyikapi masalah itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Kesbang Linmas Aceh Besar.
Ulee Gle terparah
Sementara itu, hujan deras pada Rabu (4/11) petang menyebabkan sejumlah sungai di Pidie Jaya (Piday) meluap, sehingga banjir. Yang terparah justru di Ulee Gle, Kecamatan Bandardua. Di sini, selain ribuan rumah dan tanaman, sejumlah ruas jalan juga digenangi banjir. Beberapa harta benda penduduk juga ikut rusak.
Akibat meluapnya Krueng Jeulanga dan Krueng Ulim, belasan gampong sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di dua sungai itu terendam. Antara lain, Alue Keutapang, Babah Krueng, Pohroh, Seunong, Blang Kuta, Alue Me, Jeulanga Barat, Alue Sane, dan Gampong Drien Tujoh. Bahkan untuk menuju Blang Kuta menjadi sangat sulit, karena di beberapa titik badan jalan terendam banjir hingga 0,5 meter. Bupati Pijay, Drs HM Gade Salam, didampingi beberapa kadis terkait, Kamis (5/11) pagi, turun ke lokasi banjir. Hasil pantauan tim menyimpulkan, secara umum kerusakan masih pada tingkat ringan. Namun begitu, bisa jadi jika kawasan itu kembali diguyur hujan kondisinya akan berubah dan pemkab menyatakan tak akan tinggal diam untuk membantu para korban.
Sejumlah warga Alue Keutapang yang ditemui Serambi menyebutkan, permukiman mereka terendam akibat meluapnya Krueng Jeulanga. Untuk menghindari korban jiwa, mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang dianggap aman, termasuk ke meunasah. Sejauh ini belum ada laporan tentang korban jiwa, kecuali puluhan ayam dan itik dilaporkan mati dan hanyut, serta beberapa jenis tanaman pertanian rusak.
Sulaiman (55), warga Alue Keutapang menyebutkan sekitar 100 rumah di desanya dan sebagian Desa Babah Krueng digenangi banjir. Kondisi serupa juga dialami ratusan warga Pohroh, Seunong, Blang Kuta, dan Desa Alue Sane. “Hanya dalam sekejap, hampir semua rumah warga tergenang,” ujar Kepala SMK Alaziziyah Bandardua itu.
Boat tenggelam
Dilaporkan juga, sebuah boat jenis lingga bernama KM Putri Meutuah, tenggelam diterjang badai saat mencari ikan di perairan Lhokseumawe. Meski dalam peristiwa Kamis subuh itu tak ada korban jiwa, tapi kerugian diperkirakan Rp 1 miliar. Pemilik KM Putri Meutuah, Abdul Manaf Sulaiman (45), warga Pusong Baro, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, menceritakan boat miliknya itu melaut untuk mencari ikan sekitar empat hari lalu. Mengangkut 32 anak buah kapal (ABK) di bawah Pawang Idris. Semua mereka warga Idi, Aceh Timur.
Informasi bahwa kapal itu tenggelam baru dia ketahui pukul 08.00 WIB, setelah seorang ABK yang tiba di darat mengabarinya. Posisi boat sebelum tenggelam berada di atas perairan Kota Lhokseumawe. Sedangkan badai dan hujan lebat disertai ombak besar baru terjadi pukul 05.00 WIB. Tak lebih satu jam, air sudah memenuhi palka dan boat itu pun karam. Semua awaknya terjun ke laut.
Tak lama kemudian, setelah badai reda, beberapa boat kecil lewat. Semua awak Putri Meutuah yang mengapung di laut itu diselamatkan. “Hanya dua awak boat saya yang pingsan, mungkin karena lelah kelamaan di dalam air. Kini semunya telah pulang ke Idi,” ujar Manaf. Dalam upaya pencarian, tambah Manaf, dia telah mengerahkan dua boat ke lokasi boatnya tenggelam, dengan harapan sekurang-kurangnya dapat ditemukan pukat yang ada pelampungnya. “Akibat kejadian ini saya rugi sekitar 1 miliar rupiah,” ujar Manaf. (riz/mir/ag/bah)
Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.