13 October 2009, 08:36

Drama Qori, putri Indonesia 2009

Oleh Aprisah Banun, S.pd

Rakyat Aceh terperangah, Jumat (10/10) malam, satu drama dipertontonkan oleh seorang gadis Sunda yang mewakili daerah Aceh dalam pemilihan Putri Indonesia 2009 di Pentas Teater Tanah Airku, Jakarta. Drama ini berakhir dengan terpilihnya seorang putri “jadi-jadian” oleh Yayasan Putri Indonesia untuk mengemban misi Putri Indonesia 2009 yang berujung pada kesertaan pada Kontes Internasional Miss Universe.

Yang mencengangkan bagi rakyat Aceh yang masih punya urat cengang, Qori Sandrioviva yang mewakili Aceh tidak mengenakan jilbab seperti umumnya kebiasaan dan keharusan pada wanita Aceh. Perempuan itu dengan santai dan lugas ketika MC menanyakan; kenapa ia tidak mengenakan berjilbab? Qori menjawab, bahwa menurutnya rambut adalah mahkota dan ia bangga dengan rambutnya yang indah. Lalu dimana masalahnya, apakah pada rambut indah atau pada jilbab yang tidak dikenakan?

Beragam pikiran berkecamuk di kepala orang-orang Aceh ketika itu. Seorang sahabat wanita yang saat itu bersama saya menonton siaran tersebut langsung mengklaim “ini pasti bukan orang Aceh, sebandel-bandelnya orang Aceh dia tidak akan mempermalukan kebiasaan bangsanya sendiri”. Tilik punya tilik, ternyata Qori adalah gadis Sunda dari keturunan ayahnya dengan ibu dari Gayo, Aceh Tengah. Qori ini lahir dan besar di Jakarta, ribuan kilometer jauhnya dari Aceh.

Itulah kemudian menjadi topik pembicaraan ketika beritanya disiar lewat media. Bahkan di laman Facebook dalam dunia maya, beberapa pengguna mulai pro-kontra, bahkan saling menyerang. Sebagian besar gadis Aceh juga merasa antipatinya terhadap apa yang dilakukan Qori. Ini kemudian membuat Ulama Aceh memberikan pernyataan; bahwa Qaori bukan cerminan putri Aceh.

Qori mungkin tidak tahu apa yang ada di benak wanita Aceh ketika ia menolak memakai jilbab dalam kontes yang disiarkan langsung secara nasional tersebut. Ini wajar karena Qori memang bukan keturunan Aceh dan tidak pernah hidup di Aceh. Sehingga ia tidak sadar ketika ekspos media, ia dinilai dengan membuka jilbab tidak berarti sedang berpihak pada perempuan Aceh. Ia juga tidak paham karakter perempuan Aceh, dan karakter orang Aceh.

Generasi muda Aceh bukanlah generasi yang bodoh, mereka tahu bahwa ketika Qori menghina jilbab dengan mengatakan dia pesimis bisa menang bila berjilbab, sebenarnya karena darah yang mengaliri Qori tidak mewarisi darah leluhur yang selalu menjunjung tinggi kehormatannya. Kita menyesalkan, sebagai putri yang sejatinya akan memperomosikan kebudayaan daerah harusnya ia tahu Aceh, tidak sebaliknya menghinakan identitas suatu komunitas apalagi ini menyangkut simbol keyakinan beragama (jilbab). Walaupun kita memaklumi bahwa Qori dianggap sebagian aktivis gender sebagai pembelaan hak wanita, namun tidak kemudian mengatasnamakan Aceh untuk menggadai harga diri perempuan Aceh secara umum. Ini pelajaran bagi perempuan Aceh.

* Penulis adalah staf pada tim Asistensi Gubernur Aceh, bidang komunikasi.