10 September 2009, 09:31
Puluhan Unggas Terinfeksi Flu Burung
TAKENGON - Hasil tes cepat (Rapid Test) yang dilakukan oleh dokter hewan dari Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Aceh Tengah, sebanyak 30 ekor ayam di Dusun Sagi Indah Kampung Uning Pegantungen, Kecamatan Bies Aceh Tengah, Selasa (8/9) dipastikan terinfeksi virus flu burung (Avian Influenza) yang disebabkan oleh Virus Subtipe H5N1.
Petugas telah mengambil specimen dari ayam-ayam yang mati itu dan diteliti melalui tes cepat yang dilakukan di lokasi kematian ayam-ayam itu dan hasil sementara, positif terinfeksi flu burung. Namun untuk memperoleh kepastian terhadap penyakit itu, sample ayam yang sudah mati dan ayam yang masih tersisa dibawa ke laboratorium Badan Penyidik Penyakit Veteriner (BPPV) Regional I Medan, Sumatera Utara oleh petugas BPPV Medan yang sedang berada di Takengon.
Kasus penyakit flu burung itu terungkap, Selasa (8/9) ketika seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memelihara ayam dan itik, Adli Salim SE menemukan puluhan ekor ayamnya mati mendadak pagi harinya. Dari 30 ekor lebih ayam yang dipeliharanya, sebanyak 25 ekor ayam itu mati mendadak tanpa diketahui penyebabnya. Selain ayam, dua ekor itik juga ditemukan mati mendadak, hingga ayamnya hanya tersisa hanya lima ekor saja, sedangkan itiknya mati sebanyak dua ekor. “Ketika bangun pagi, saya melihat puluhan ekor ayam saya mati mendadak,” ujar Adli Salim.
Dikatakan Adli Salim, sehari sebelumnya, ia melihat ayam-ayamnya masih sehat, namun ketika pagi tadi, ia menemukan banyak ayamnya yang mati mendadak tanpa diketahui penyebabnya. Ia menyebutkan, ayam-ayam yang matinya itu dikumpulkan dan dibuang ke rawa-rawa di belakang rumahnya sedangkan ciri-ciri ayam yang mati itu, keluar berak (fases) warna putih dan sedangkan warna pial-nya merah kehitaman. “Sebanyak 22 ekor ayam dan itik saya mati dan hanya tersisa beberapa ekor saja,” ujar Adli Salim.
Staf Kesehatan Hewan (Keswan) dan Petugas Tanggap Flu Burung Partisipasory Deseas Suvelance of Respons (PDSR) Aceh Tengah, drh Milaniarti, Selasa (8/9) mengatakan, dari hasil Rapid Test (tes cepat) yang dilakukan terhadap sejumlah ayam yang mati terindikasi ayam-ayam itu terinfeksi penyakit flu burung yang mematikan itu.
Menurut sifatnya, tingkat kamatian ayam-ayam yang terinfeksi flu burung mencapai 50 persen lebih perhari, dan pada akhirnya akan mati semua unggas yang berada dalam satu kandang atau sekelompok unggas yang bermain bersama-sama. “Bila seekor saja terinfeksi penyakit flu burung, maka dipastikan seluruh ayam yang ada dalam satu kandang itu akan mati,” ujar drh Milaniarti.
Dikatakan, berdasarkan ciri-ciri fisik ayam yang mati dan hasil uji fases (berak) ayam itu, dapat dipastikan ayam-ayam itu sudah terinfeksi flu burung. Sebagai petugas kesehatan hewan, ia akan mengirim sample ayam yang mati untuk dikirim ke laboratorium BPPV Regional I Medan Sumatera Utara. Proses uji laboratorium itu akan diketahui antara tiga hingga empat hari ke depan.
“Untuk memastikan penyebab pasti kematian ayam-ayam itu, kita harus menunggu hasil ujai laboratorium BPPV Wilayah I Medan Sumatera Utara,” ujar Milaniarti. Untuk menganstisipasi meluasnya penyebaran flu burung itu, katanya, seluruh unggas yang masih tersisa yang dipelihara Adli Salim dan diduga sudah terinfeksi flu burung akan dimusnahkan dengan cara dibakar dan ditanam sedalam satu setengah meter, sedangkan lingkungan kandang itu disemprot disinfektan untuk membunuh virus flu burung yang masih tersisa. “Unggas yang terifeksi flu burung tidak boleh dijual atau dipindahkan ke tempat lain, karena penyebaran virus flu burung dapat melalui udara. Semua unggas yang terinfeksi virus flu burung harus dimusnahkan,” ujar Milaniarti.(min)
Petugas telah mengambil specimen dari ayam-ayam yang mati itu dan diteliti melalui tes cepat yang dilakukan di lokasi kematian ayam-ayam itu dan hasil sementara, positif terinfeksi flu burung. Namun untuk memperoleh kepastian terhadap penyakit itu, sample ayam yang sudah mati dan ayam yang masih tersisa dibawa ke laboratorium Badan Penyidik Penyakit Veteriner (BPPV) Regional I Medan, Sumatera Utara oleh petugas BPPV Medan yang sedang berada di Takengon.
Kasus penyakit flu burung itu terungkap, Selasa (8/9) ketika seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memelihara ayam dan itik, Adli Salim SE menemukan puluhan ekor ayamnya mati mendadak pagi harinya. Dari 30 ekor lebih ayam yang dipeliharanya, sebanyak 25 ekor ayam itu mati mendadak tanpa diketahui penyebabnya. Selain ayam, dua ekor itik juga ditemukan mati mendadak, hingga ayamnya hanya tersisa hanya lima ekor saja, sedangkan itiknya mati sebanyak dua ekor. “Ketika bangun pagi, saya melihat puluhan ekor ayam saya mati mendadak,” ujar Adli Salim.
Dikatakan Adli Salim, sehari sebelumnya, ia melihat ayam-ayamnya masih sehat, namun ketika pagi tadi, ia menemukan banyak ayamnya yang mati mendadak tanpa diketahui penyebabnya. Ia menyebutkan, ayam-ayam yang matinya itu dikumpulkan dan dibuang ke rawa-rawa di belakang rumahnya sedangkan ciri-ciri ayam yang mati itu, keluar berak (fases) warna putih dan sedangkan warna pial-nya merah kehitaman. “Sebanyak 22 ekor ayam dan itik saya mati dan hanya tersisa beberapa ekor saja,” ujar Adli Salim.
Staf Kesehatan Hewan (Keswan) dan Petugas Tanggap Flu Burung Partisipasory Deseas Suvelance of Respons (PDSR) Aceh Tengah, drh Milaniarti, Selasa (8/9) mengatakan, dari hasil Rapid Test (tes cepat) yang dilakukan terhadap sejumlah ayam yang mati terindikasi ayam-ayam itu terinfeksi penyakit flu burung yang mematikan itu.
Menurut sifatnya, tingkat kamatian ayam-ayam yang terinfeksi flu burung mencapai 50 persen lebih perhari, dan pada akhirnya akan mati semua unggas yang berada dalam satu kandang atau sekelompok unggas yang bermain bersama-sama. “Bila seekor saja terinfeksi penyakit flu burung, maka dipastikan seluruh ayam yang ada dalam satu kandang itu akan mati,” ujar drh Milaniarti.
Dikatakan, berdasarkan ciri-ciri fisik ayam yang mati dan hasil uji fases (berak) ayam itu, dapat dipastikan ayam-ayam itu sudah terinfeksi flu burung. Sebagai petugas kesehatan hewan, ia akan mengirim sample ayam yang mati untuk dikirim ke laboratorium BPPV Regional I Medan Sumatera Utara. Proses uji laboratorium itu akan diketahui antara tiga hingga empat hari ke depan.
“Untuk memastikan penyebab pasti kematian ayam-ayam itu, kita harus menunggu hasil ujai laboratorium BPPV Wilayah I Medan Sumatera Utara,” ujar Milaniarti. Untuk menganstisipasi meluasnya penyebaran flu burung itu, katanya, seluruh unggas yang masih tersisa yang dipelihara Adli Salim dan diduga sudah terinfeksi flu burung akan dimusnahkan dengan cara dibakar dan ditanam sedalam satu setengah meter, sedangkan lingkungan kandang itu disemprot disinfektan untuk membunuh virus flu burung yang masih tersisa. “Unggas yang terifeksi flu burung tidak boleh dijual atau dipindahkan ke tempat lain, karena penyebaran virus flu burung dapat melalui udara. Semua unggas yang terinfeksi virus flu burung harus dimusnahkan,” ujar Milaniarti.(min)